Showing posts with label FOTAR News. Show all posts

Rihlah sahabat Forum Tarbiyah di Botanical Garden, Shah Alam

“ Kak sering-sering aja ada rihlah gini “ tegur fulanah 
“ kenapa emang dek? “ jawab ku 
“ Jadi bersyukur aja dikasih Allah SWT teman, kakak dan abang yang ketjeh, saling mengingatkan akan kebaikan itu penting loh kak “ curhatnya 
“ iya dek, I feel you “ (sambil nostalgia )

                                                      ***

Sabtu, 18 Februari 2017 sejarah tercatat kembali. Acara tahunan Fotar ( Forum Tarbiyah ) yang bertujuan sebagai wadah silaturrahim keluarga fotar lintas generasi, dapat mempererat ukhuwah islamiyah keluarga fotar, juga merekrut kekeluargaan baru. 

Pukul 8.20 pagi, peserta yang berjumlah 90 orang serta 26 panitia bergegas menuju tempat tujuan rihlah. Lagi-lagi pagi kami disambut oleh ribuan burung yang berkicau. Rihlah yang mengambil tema, “Menghidupkan Sunnah, Memperkuat Ukhuwah” ini berlangsung di Botanical Garden, Shah Alam. 

Dimulai dengan bacaan basmallah yang dipandu oleh kawan kita Thariq, agar acara rihlah ini kondusif serta tercapainya tujuan-tujuan rihlah tersebut. 

Game indoor untuk pemanasan pun terlihat seru, dilanjutkan dengan game outdoor yang tak kalah meriah. Wajah puas memecahkan soal-soal terpancar jelas meski terik matahari tidak bersahabat. Mahsiswa-mahasiswi Postgraduate adalah bintangnya game untuk hari ini. 

Selanjutnya kami dibagi kelompok untuk bergabung bersama para murobbi dan murobbiyah, nasihat untuk kembali meluruskan niat “ apa urgensi halaqoh “ itu.

Pukul 5 sore tiba dimana untuk kembali mendengarkan taujih singkat yang disampaikan oleh Ustad Azzam, alumni Universitas Islam Madinah ini menceritakan kembali kisah para ashabul kahfi, juga beberapa syafa’at bagi orang-orang yang “sengaja” menempatkan dirinya dikalangan orang-orang yang sholeh. Kembali beliau me-reminder bahwa betapa malunya kita ketika berada dikalangan sahabat sholeh tapi tak kunjung megikuti amalan sholehnya. 

*Cukup deep nasihat beliau*

Nampaknya matahari mulai terbenam dan kami pun bersiap untuk penutupan sekaligus persiapan  untuk bertolak ke kampus kami tercinta, IIUM. 

Kami sadar ya Rabb, apa yang kami idekan untuk acara ini semata-mata mengharap ridho dari-Mu, mudahkanlah langkah kami kedepannya untuk mencari dan terus mencari ilmu. 

RIHLAH FOTAR 2017.....
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR 



                                                                 Shah Alam, 18 Februari 2017

Rihlah sahabat Forum Tarbiyah di Botanical Garden, Shah Alam “ Kak sering-sering aja ada rihlah gini “ tegur fulanah  “ kenapa emang dek? “ ...

                          Oki Setiana Dewi berbagi pengalamannya

Kuala Lumpur, 12 Februari 2017, Seminar Muslimah bertemakan "Muslimah Produktif Kunci Menjadi Arsitek Peradaban" yang diadakan oleh Divisi An-nisa Forum Tarbiyah berlangsung ramai dan sukses. Acara yang bertempat di Aikol IIUM ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari Indonesia dan Malaysia.

Tepat pukul 11.30 tempat duduk peserta sudah memenuhi setengah ruangan, beserta 2 narasumber yang sudah hadir dan menempati tempat duduknya. Sesi pertama dibuka oleh moderator yang juga mahasiswi aktif di IIUM, Fadhilah Asaadah. Dilanjutkan dengan narasumber pertama yaitu Farah Nabila, mahasiswi yang baru saja lulus dari jurusan psychology di IIUM ini punya segudang prestasi yang diraihnya ketika masih duduk di strata 1, salah satunya menjadi "Dean's list in all previous semester". Tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, mahasisiwi ini juga aktif di berbagai kegiatan sosial yang menurutnya hal ini penting dilakukan di saat masih kuliah sebagai platform terbaik untuk aktif dan berkontribusi, juga sarana untuk membina diri sebelum kita menjejaki kehidupan selanjutnya seperti kehidupan berumah tangga.

Selain itu, narasumber kedua yang melanjutkan master nya di IIUM ini bernama Yekti Mahanani. Alumni IPB ini tidak kalah aktif ketika masa degree nya, diundang ke berbagai negara seperti Turki, Korea, dan Mesir karna prestasinya dibidang non-akademik, menurutnya seseorang yang sibuk belum tentu produktif, apa yang didepan mata dikerjakan dan dimaksimalkan, yang penting kontribusinya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sesi pertama diakhiri dengan hiburan dari Sanggar Khatulistiwa dan pembacaan puisi oleh Fitria Malafeni. Sesi pertama selesai, peserta yang hadir semakin bertambah, tempat duduk peserta hampir memenuhi ruangan. Sesi kedua merupakan sesi paling utama dan paling ditunggu oleh para peserta, karna hadirnya Oki Setiana Dewi yaitu ustadzah, penulis, aktris dan pemain utama film "Ketika Cinta Bertasbih I" sebagai narasumber ketiga.

Sesi kedua dibuka oleh moderator yang sedang melanjutkan PhD nya di IIUM, Fitri Amry . Selanjutnya Oki Setiana Dewi membuka sesi pembicaraan dengan berbagi cerita ketika ia masih sibuk syuting di film Ketika Cinta Bertasbih sambil tetap kuliah, beliau membagi waktunya dengan baik sehingga saat bersamaan dapat meraih nilai tertinggi ketika ujian, kuncinya adalah jangan menyia-nyiakan waktu luang, tutur beliau. Oki Setiana Dewi banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari nya, dari mulai bangun pagi sampai larut malam.

Oki yang pernah berencana mengambil kuliah S3 di IIUM ini juga sangat antusias ketika menceritakan impian-impian nya kelak, katanya "saya ingin anak-anak saya menjadi hafiz dan hafizhah" dan beliau berkata "karna PR sepanjang masa adalah belajar dan menghafalkan Al-Qur'an, semoga kita bisa sukses di dunia, terkenal di penduduk dunia dan insyaAllah terkenal di penduduk langit, itu jauh lebih berharga".

                          Oki Setiana Dewi berbagi pengalamannya Kuala Lumpur, 12 Februari 2017, Seminar Muslimah bertemakan "Muslimah ...

Arya Sandhiyudha menyampaikan paparannya
Jumat tanggal 11 November 2016, Forum Tarbiyah (FOTAR) dan Persatuan Pelajar Indonesia IIUM berkolaborasi dalam program yang bertajuk “Aksi 411 dan Wajah Islam di Indonesia ke Depan”. Hadir sebagai pembicara adalah Arya Sandhiyudha, pengamat politik internasional yang juga direktur eksekutif Madani Center for Development.

Acara ini dimulai pada pukul 20.55 waktu setempat oleh saudara Ridho Ardiansyah selaku pembawa acara. Pemberian kata sambutan diberikan oleh saudara M. Rajiev Syarif Al-Jaflani selaku ketua I PPI IIUM. Mahasiswa master di political science IIUM ini juga memberikan sedikit penjelasan dan pandangannya mengenai aksi-reaksi dari peristiwa 4 November lalu. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan sambutan dari saudara Kieren Akbar selaku Ketua Fotar.

Sebagai pembuka sesi penyampaian materi, ketua Fotar sebelumnya saudara Amjad Dhiyaulhaq selaku moderator, memberikan sedikit penjelasan tentang teori vulnerablity. Pada kesempatan ini, beliau memaparkan bahwa semakin banyak sumber daya yang dimiliki oleh suatu negara, atau semakin strategis letak geografinya, maka semakin tinggi pula kemungkinan negara itu dapat diinvasi maupun diintervensi oleh pihak-pihak asing. Ia menambahkan,  untuk dapat menguasai sebuah negara, pihak manapun harus menguasai kelompok mayoritas di negara tersebut. Indonesia sebagai sebuah negara dengan umat islam terbanyak di dunia, sudah sewajarnya apabila ada pihak-pihak yang ingin mencoba mengontrol dan memecah belah untuk dapat menguasai sumberdaya yang ada. Ia menyebutkan, peristiwa 411 lalu merupakan salah satu upayanya. Namun dengan kebesaran Allah, peristiwa ini justru mempererat dan menyadarkan banyak umat islam tentang urgensi dan keindahan islam.

Memasuki ke acara utama, panelis Arya Sandhiyudha membenarkan apa yang dikatakan moderator sebelumnya. Pada sesi ini, ia mengajak kepada para hadirin untuk lebih fokus membenahi diri dan mengambil pelajaran dari aksi 411 ketimbang hanya membahas permasalahannya saja. Ia mengutip Ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Q. S. Ar Ra'd. 11)

Maka dari itu, sebelum seseorang berpikir untuk dapat memberikan perubahan dalam skala besar, ia harus terlebih dahulu mengubah dirinya sendiri. Menurutnya, tidak sedikit dari generasi muda yang masih memiliki masalah tentang perasaan dan pola pikir. Sebaliknya, untuk memiliki tindakan yang berfaedah, perlu diawali dengan perasaaan yang terarah dan pikiran yang tercerah. Ia menambahkan, tidak sedikit dari generasi muda yang juga masih memiiki kekhawatiran terhadap apa yang sudah terjadi di masa lalu. Padahal untuk dapat siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, seseorang haruslah terbebas dari segala kekhawatiran di masa lalu yang membelenggu dirinya. Namun baginya, siap menghadapi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang bukan berarti berpikir terlalu futuristik. Seseorang cukup fokus hal mendetail dalam jangka pendek, karena biasanya berpikir terlalu futuristic justru membuat seseorang tidak optimal dalam mempersiapkan apa yang dapat dilakukan sekarang. Pada akhirnya, hal ini membuatnya tidak mendapat pencapaian yang optimal di masa sekarang, juga di masa yang akan datang.

Beliau menyebutkan, dalam membenahi dan mempersiapkan diri memang seseorang tidak perlu terlalu futuristic. Namun dalam skala yang lebih besar, berbagai perencanaan dan persiapan yang futuristik sangat dibutuhkan sebagai bentuk mempersiapkan generasi yang tangguh di masa yang akan datang. Baginya, salah satu hal yang patut menjadi perhatian bangsa Indonesia saat ini adalah memprediksi kelangkaan dan kompetisi global, yang pada umumnya merupakan cadangan energi, pangan, dan air sebagaimana yang pernah disebutkan panglima TNI, Gatot Nurmantyo  pada 8 November silam.

Perlu diketahui bahwa, sebuah negara yang memiliki keterbatasan atau bahkan tidak memiliki cadangan pangan akan memiliki pandangan untuk menguasai, baik melakukan penjajahan maupun kerjasama sepihak yang menguntungkan negaranya. Pada saat ini, masih banyak negara-negara di dunia yang memanfaatkan energi fosil. Namun di masa yang akan datang, ketika energi fosil habis, maka seluruh dunia akan mengejar energi terbarukan yang berada di negara ekuator, di mana Indonesia merupakan salah satunya.

Lebih jauh lagi, sebagai impacts of climate change, cepat atau lambat iklim dunia tidak lagi mendukung kehidupan sebagaimana kehidupan sekarang. Dalam kasus ini, ia memberikan analogi hulu dan hilir. Hilir sebagai dampak, dan hulu sebagai faktor penentu yang menentukan hilir atau dampak dari suatu permasalahan itu sendiri. Baginya, memprediksi bagaimana kelangsungan hidup sebagai dampak dari keterbatasan fosil, perubahan iklim, maupun dampak dari aksi 411 hanyalah hilir. Hal utama yang patut dipertimbangkan adalah hulu itu sendiri. Menurutnya, faktor penentu dalam mencegah maupun mengontrol permasalahan tersebut adalah kepemimpinan. Jika seandainya Indonesia sudah dapat mengatur hulu dengan baik, maka apapun hilir yang akan terjadi In shaa Allah tidak akan menjadi masalah yang besar.

Di akhir sesi, mantan ketua PPI Turki tahun 2014 ini memaparkan konsep perubahan mindset (Al-‘aqliyah) yang perlu menjadi inspirasi anak muda untuk dapat menjadi hulu. Yang pertama, generasi muda perlu untuk memiliki mindset sebagai perancang (Al-‘aqliyah al-handasah). Yang kedua adalah mindset pengubah (Al-‘aqliyah At-taghyir), di mana generasi muda harus memiliki semangat pergerakan. Selanjutnya, mindset penakluk (Al-‘aqliyah At-Tashkir), dimana generasi muda harus memiliki ghirah untuk dapat menaklukkan bidang-bidang yang ada. Yang terakhir adalah mindset innovator (Al-‘aqliyah Al-ibda), dimana generasi muda tidak boleh hanya merasa puas dengan sistem maupun segala hal yang ada, namun juga memiliki keinginan untuk terus memperbaiki melalui inovasi-inovasi yang dapat memberikan solusi.

Sebagai penutup, beliau mengingatkan para hadirin untuk jangan melawan zaman, tapi yakinlah menang dengan mengadopsi teknologi sekarang sebagai kendaraannya namun dengan tetap membawa semangat islam di dalamnya.

Sesi penyampaian materi berakhir pada pukul 22.10 malam dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diberikan kepada 4 penanya pertama. Penanya pertama adalah saudara Rizki Amrillah, mahasiswa postgraduate-KIRKHS. Beliau meminta pandangan dari panelis mengenai dampak aksi 411 ke depannya. Saudara Arya memilih untuk tidak memberikan pandangannya karena beliau tidak berkenan menjawab sesuatu yang di luar kepakarannya, yakni politik internasional. Pertanyaan ke dua ditanyakan oleh saudara Fadli Zarli, mahasiswa undergraduate-KIRKHS. Beliau menanyakan bagaimana membawa kemajuan tanpa membuat langkah yang terlalu futuristik. Selanjutnya, panelis memberikan pandangannya bahwa cara yang paling tepat adalah dengan membuat langkah pendek dan realistis. Beliau bercerita pengalamannya ketika masih duduk di bangku perkuliahan. Ketika itu, tidak sedikit dari temannya yang lebih memilih pasif di organisasi untuk dapat fokus pada bidang mereka dengan harapan bisa memberikan kontribusi nyata di masa yang akan datang ketika mereka sudah sukses. Namun kenyataannya, sebagian besar dari mereka justru juga tidak melakukan apa-apa di masa yang akan datang. Sehingga ia menyebut, jika terlalu futuristic akan rugi dua kali.

Setelah selesai dengan dua penanya dari teman-teman ikhwan, dua pertanyaan berikutnya diberikan kepada teman-teman akhwat. Penanya pertama adalah saudari Fadhilah Assa’adah, mahasiswi undergraduate KIRKHS. Pertanyaan kedua disampaikan oleh saudari Qoriatul Hasanah, mahasiswa postgraduate KIRKHS. Mahasiswi asal Padang ini menanyakan kepada panelis, apakah ada usaha dari bangsa Tionghoa untuk menguasai Indonesia.

Pemerhati politik internasional itu menjawab bahwa usaha-usaha tersebut pastilah ada sebagaimana yang telah ia jelaskan sebelumnya. Ia mengajak, tugas kita sebagai generasi muda adalah menyiapkan segala yang ada. Generasi muda Indonesia harus mempersiapkan yang terbaik bagi negeri ini dari latar belakang masing-masing. Ia memberikan perandaian, jika seandainya terjadi perang dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, apakah sektor keilmuan kita sudah siap. Jika mahasiswa politik maka harus berpikir apakah kebijakan politik dan kerjasama internasional Indonesia sudah cukup matang untuk terlibat dalam peperangan. Mahasiswa ekonomi harus mempersiapkan apakah pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia siap jika seandainya kita terlibat peperangan. Begitu juga dengan berbagai sector keilmuan yang lain. Baginya, hal ini sangatlah penting sebagai upaya optimalisasi bonus demografi yang sekarang sedang terjadi di Indonesia. Di mana generasi muda Indonesia harus dipersiapkan sebaik-baiknya.

Acara yang kemudian ditutup oleh pembawa acara pada pukul  22.35, diakhiri oleh sebuah pertanyaan oleh moderator. “Siapkah kita sebagai bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa penerus?” Mari kita renungkan bersama dan tanya kepada diri kita masing2.

Penulis: M. Fathudzikri Aulia

Arya Sandhiyudha menyampaikan paparannya Jumat tanggal 11 November 2016, Forum Tarbiyah (FOTAR) dan Persatuan Pelajar Indonesia IIUM berkola...

Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, berbagi nasihat pada mahasiswa Indonesia di IIUM
"Pendidikan bukan segala-galanya, tapi semua berasal dari pendidikan"
Malam (8/11) yang senyap disertai rintikan hujan tidak meredam kesediaan mahasiswa/i Indonesia yang belajar di International Islamic University Malaysia untuk menghadiri kajian bulanan Forum Tarbiyah. Kajian rutin islam yang mengobarkan semangat dakwah ini alhamdulillah dapat di hadiri puluhan mahasiswa baik lokal maupun internasional.

Tausiyah yang di sampaikan oleh Bapak H. Mahyeldi Ansharullah kali ini bertema “Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Masyarakat Madani”. Berperan penting dalam membawa perubahan di kota Padang, menjadikan beliau dekat dengan pemuda serta terjun langsung dalam mentransfer energi positif untuk mewujudkan masyarakat madani. Menyatukan langkah, presepsi dan kekompakanlah yang menjadi mantra beliau yang dilantik pada tahun 2014 ini. Dengan berilmulah, masyarakat madani dapat terwujud.

Beliau menambahkan bahwa pendidikan bukanlah segala-galanya, namun bukan berarti mesti dikesampingkan jua, bahkan ayat pertama dalam Al-Qur’an yang turun merupakan sebuah perintah untuk membaca, yang notabene merupakan salah satu cara mutlak dalam menuntut ilmu.

Imam Abu Abdullah Muhamad bin Idris atau yang lebih dikenal sebagai imam As-syafi’I merupakan sosok yang tepat dalam konten ini, seorang ulama dari negeri gaza yang ajarannya telah melebarluas dan dipegang erat oleh penduduk muslim di Indonesia serta kebanyakan muslim di asia, sadar akan maslahat umat dalam memegang ajaran islam yang kokoh, membuatnya berperan penting dalam mengukir sejarah keilmuan islam.

Jarum jam menunujuk arah 22.05, artinya para peserta diperbolehkan untuk bertanya. Pertanyaan pertama berupa pernyataan. Dimana dunia hari ini menyerukan akan pentingnya pendidikan akademik, hasilnya pendidikan mental atau keimanan ternomor duakan. Keseimbanganlah yang menjadikannya sempurna.

Tausiyah singkat beliau sangatlah sesuai untuk dijadikan reminder utama kita sebagai mahasiswa, yang konon katanya memiliki laqab agent of change dan masa depan negeri ini akan berada di pundaknya. Makanya, yuk sama-sama kita berbaris paling depan, serta saling rangkul untuk mewujudkannya. 

Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, berbagi nasihat pada mahasiswa Indonesia di IIUM "Pendidikan bukan segala-galanya, tapi semua...

Jumat (7/10) lalu Fotar mengadakan Musyawarah Akbar yang menandai berakhirnya kepengurusan periode 2015-2016 yang dinakhodai oleh saudara Amjad Dhiyaulhaq dan sekaligus penanda bergulirnya estafet kepemimpinan ke pemimpin Fotar yang baru. 

Melalui prosesi yang cukup sederhana alhamdulillah laporan pertanggungjawaban pengurus diterima oleh majelis. Catatan untuk perbaikan tentu ada, mohon maaf, namun tahniah tetap saja patut untuk diucapkan kepada para pengurus yang sudah merelakan waktu, tenaga, pikiran, juga terkadang finansialnya untuk menghidupi organisasi ini. Terimakasih wa jazaakumullaahu ahsanal jazaa’.
Dr. Mira Kartiwi memberikan taujih
Dr. Mira Kartiwi dalam taujih singkatnya mengingatkan bahwa para pengurus dan anggota Fotar harus bersyukur atas kesempatan yang diperoleh untuk berkontribusi dalam kegiatan dakwah kampus di IIUM. Menurut beliau, dengan berada di biah yang baik, motivasi untuk terus berbuat baik menjadi terjaga. Motivasi itulah yang menjadi bahan bakar ketika keraguan mulai menghampiri hati dan berbagai kendala terasa begitu berat untuk dihadapi.

Beliau juga berbagi pengalamannya belajar di Australia. Biah yang baiklah yang beliau akui banyak memudahkan berbagai urusan selama di sana. Dari hal-hal semacam kemudahan mendapatkan makanan halal hingga kelancaran dalam menghadapi ujian master. Dan biah baik tersebut mungkin tidak bisa beliau cicipi tanpa berkencimpung dalam kegiatan-kegiatan dakwah.

Fotar, kata beliau, harus menjadi sarana investasi kebaikan para anggotanya. Bukan saja kebaikan yang bisa dirasakan manfaatnya hari ini, atau esok pagi, namun juga yang mungkin baru bisa dinikmati bertahun-tahun mendatang.

"Itu kenapa aktivis dakwah harus istiqomah, persistent, karena kita bukan hanya perjalanan dakwah bukan hanya menyoal kehidupan hari ini, tetapi juga kehidupan yang lebih hakiki di akhirat nanti.", tandasnya.
***
Prosesi serah jabatan dari Amjad Dhiyaulhaq kepada Kieren Akbar
Demi menjaga keistiqomahan dakwah Fotar jugalah kemudian musyarawah memutuskan untuk memberikan kepercayaan kepada saudara Kieren Akbar menjadi Ketua Fotar periode 2016-2017. Dan yang bersangkutan pun alhamdulillah bersedia untuk mengemban amanah tersebut. 

Kieren merupakan mahasiswa Department of Fiqh and Usul-Fiqh, KIRKHS yang sudah cukup lama berkarya bersama Fotar, sedari menjadi anggota divisi Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, menjabat sekretaris dan bendahara, hingga menjadi wakil ketua pada periode lalu.

"Kerja-kerja organisasi ini adalah kerja bersama. Mohon kesediaan teman-teman untuk menyertai saya menjalankan amanah ini." ungkap Kieren dalam sambutan singkatnya yang juga menjadi akhir dari Musyarah Akbar Fotar kali ini.

Semangat berfikir, belajar, bekerja, beramal, dan berkontribusi untuk pimpinan beserta jajaran Fotar periode 2016-2017. Barakallah, selamat meneruskan perjalanan dakwah!

Jumat (7/10) lalu Fotar mengadakan Musyawarah Akbar yang menandai berakhirnya kepengurusan periode 2015-2016 yang dinakhodai oleh saudara Am...

Memanfaatkan libur panjang akhir pekan, pada Sabtu (17/9) Forum Tarbiyah IIUM mengadakan kegiatan rihlah ke Pantai Seri Bulan, Port Dickson. Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan dari kampus IIUM, birunya laut Selat Malaka seketika memanjakan mata. Basah pasir pantai seolah menjadi penghilang lelah setelah dua minggu pertama kuliah.

Tangan-tangan saling bersalaman, nama-nama saling ditukarkan, sekadar pembuka hari yang panjang. Sosok-sosok yang semula terlihat rikuh satu sama lain seketika larut dalam serunya permainan pemanasan. Barisan dibuat, tangan-tangan dieratkan ke pundak, sebelum kemudian menyatukan irama lompat, mengikuti aba-aba pemimpin acara. Maju, mundur, kiri, kanan, depan, belakang. Tapak-tapak kaki berdesakan di hamparan pasir. Semakin banyak, semakin banyak.

Sementara di pinggir pantai, para penyelenggara acara tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan. Botol-botol air. Tali-tali rafia. Ember-ember plastik berbagai ukuran yang jelas dipinjam dari pemilik yang berbeda. Balon-balon plastik. Hingga gelas-gelas kertas. Semua diatur, ditata sedemikian rupa.

Siap sudah.

Permainan pun dimulai. Badan distimulasi untuk bergerak. Juga otak, harus diputar untuk menyelesaikan berbagai tantangan. Dari permainan memindahkan bola ping-pong dengan gelas-gelas air yang mengingatkan pada praktikum sains di sekolah dulu, hingga estafet air yang seru-seru basah.

Satu persatu permainan dituntaskan. Peluh bercucuran. Namun senyum dan tawa tak sekalipun hilang dari wajah. Juga kata-kata penyemangat yang tak henti diberikan kepada kawan sepermainan. 

Riuhnya permainan berakhir tengah hari. Matahari sudah berada di atas kepala. Sisa-sisa permainan dibereskan. Para peserta rihlah bergegas membersihkan badan. Nikmatnya nasi ayam menyusul kemudian. Badan sudah kembali segar. Perut sudah diisi. Azan berkumandang. Sholatpun ditegakkan. Di pelataran laut Selat Melaka, kepala kami menunduk dalam sujud, mengingatkan keagungan Sang Pencipta luasnya lautan, juga semesta dan seisinya.

Taujih singkat lantas menjadi makan siang kedua. Abang kami, Ahmad Rasikh, berkesempatan datang untuk berbagi pengalaman dan pesan hidup. Ia perkenalkan bagaimana bibit Fotar disemai dan dihidupi. Pesannya satu: istiqomah adalah kuncinya. Keteguhan hati untuk melayani umat, melanjutkan visi mulia Rasulullah SAW. 

Beliau garis bawahi juga pentingnya visi hidup. Jauh-jauh ke IIUM, meninggalkan sanak keluarga, apa yang kita cari? Apa yang ingin kita raih? Sudah kita hidupi visi kita? Target-target kita? *hening*
Foto di pantai, melawan arus! :D
Rihlah Fotar. Selalu menjadi semacam charger pengisi ulang bilik-bilik kalbu. Kesempatan teman-teman lama kembali bersua. Juga penyambung generasi-generasi yang berbeda (semoga paham maksudnya: generasi terdahulu, dengan generasi yang lebih muda) dengan cara yang menyenangkan.

Semoga bukan kegembiraannya saja yang kita ingat, namun juga kita ikhtiarkan pesan-pesan yang sudah disampaikan. :)

Pantai Seri Bulan, 17092016 - 16:36
Seseorang - sudah empat kali ikut Rihlah Fotar :D

Memanfaatkan libur panjang akhir pekan, pada Sabtu (17/9) Forum Tarbiyah IIUM mengadakan kegiatan rihlah ke Pantai Seri Bulan, Port Dickson...

Mak Nurlela
"Biar gigi Mak sudah habis, Mak puasa penuh tau. kerja pun meski sedikit Mak tetap buat. Allah tak suka kalau kita ni malas.", sambil tergelak Mak Nurlela berbagi kisahnya di kantin Kulliyah of Education, IIUM, suatu siang.

Meninggalkan kampung halamannya di Sumatera Barat, beliau merantau ke Malaysia sejak puluhan tahun silam. Berbagai jenis pekerjaan pernah beliau lakukan. "Yang penting halal. Suami Mak meninggal ketika anak-anak Mak masih kecil-kecil.", ujarnya.

Mak Nurlela sudah tidak ingat lagi berapa lama beliau bekerja sebagai petugas kebersihan di IIUM. Setengah berkelakar beliau mengibaratkan bekerja di IIUM sejak masih bisa berlari kencang hingga untuk berjalanpun susah.

Bagi beliau, bekerja bukanlah semata untuk uang. Namun juga sudah menjadi hobinya. Yah, hobi beliau adalah bekerja. Bahkan ketika umur beliau sudah tidak lagi mudapun beliau tetap meminta kepada Daya Bersih untuk mengizinkannya bekerja.

"Alhamdulillah Daya Bersih memberi izin. Itu pun kerja Mak tak banyak seperti dulu.", katanya.

Mak Nurlela hanyalah satu dari sekitar 600 petugas kebersihan dan pertamanan di IIUM. Mereka inilah yang berjasa besar menjaga kebersihan area kampus dan mahallah sehingga tempat ini menjadi sedemikian nyaman. Selain warga negara Indonesia dan Malaysia, sebagian kecil pekerja berasal dari Kamboja, Nepal, dan Bangladesh.

Sebagai wujud kepedulian dan juga ucapan terimakasih atas dedikasi kerja mereka, Fotar IIUM giat melaksanakan berbagai kegiatan yang melibatkan para pekerja tersebut. Di antaranya adalah dengan menyelenggarakan majelis taklim untuk para pekerja yang diadakan setiap minggunya di mahallah-mahallah. Melalui majelis ini para pekerja diberikan pemahaman dan bimbingan agama. Juga diajarkan membaca Al Qur'an.

Selain itu, setiap Ramadhan Fotar IIUM juga membagikan bingkisan bahan makanan kepada para pekerja, dikemas dalam kegiatan bertajuk Sharing for Surroundings. Kegiatan yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2012 ini diharapkan bisa membantu mereka dalam menjalankan ibadah puasa apalagi isi bingkisan adalah kebutuhan sehari-hari seperti minyak goreng, tepung, sarden, gula, teh, dan beberapa barang lain. Dana untuk kegiatan ini dihimpun dari donasi yang diberikan oleh berbagai pihak. 

Tahun ini Sharing for Surroundings kembali diadakan. Kesempatan untuk berdonasi kembali dibuka. Berapa pun jumlahnya, in shaa Allah akan turut menyunggingkan senyum di wajah para pekerja. Karena bagi mereka, bingkisan semacam ini adalah bukti bahwa masih ada yang peduli.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan untuk niat baik di bulan yang juga penuh berkah ini. In shaa Allah.


Kontak: Sdr. Kieren Akbar +60 11-3374-0936

Donasi:

Bank Muammalat Malaysia - 1407-0010199-72-1 - a.n. Yusuf Ali
Bank Muammalat Indonesia - 2410-01583 - a.n. Amjad Dhiyaulhaq

Mak Nurlela "Biar gigi Mak sudah habis, Mak puasa penuh tau. kerja pun meski sedikit Mak tetap buat. Allah tak suka kalau kita ni malas...

Peserta Family Gathering Fotar, sebagian sudah pulang, hehe.
Pagi, 7 Mei 2015. Matahari meninggi. Kampus IIUM sudah sibuk. Sebagian kelas 'study circle' masih berjalan. Yang tidak ada kelas pun disibukkan dengan kegiatan-kegiatan akhir pekan. Mulai dari mencuci baju, membersihkan kamar, atau berolahraga menggerakkan badan. Pun dengan keluarga Fotar IIUM, memanfaatkan akhir pekan dengan mengadakan 'family gathering'. Alhamdulillah ada puluhan yang menyempatkan hadir, mulai dari pengurus, anggota halaqah, hingga beberapa guru Fotar.

Kegiatan dimulakan dengan doa pagi dan senam. Saudara Alla Khairi dengan lincah memimpin senam pemanasan yang cukup membuat keringat berlelehan. Setelah itu kegiatan diisi dengan berbagai macam permainan yang memadukan ketangkasan fisik, ketangkasan akal, dan juga kerja sama para peserta.

Pada salah satu permaninan semisal, masing-masing kelompok ditantang untuk adu cepat menyelesaikan soal cerdas cermat keislaman. Bedanya, selain adu cepat para peseta juga beradu lari untuk menjemput masing-masing pertanyaan. Jadi baik badan dan akal sama-sama tersegarkan.

"Siapan saja nama.... huh.. hah.. huh.. nama para asabiqunal... huh.. hah.. huh.. assabiqunal awwalun!" baru mau membacakan pertanyaannya saja sudah terengah-engah, hehe.

Oh ya, peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Peserta ikhwan dibagi menjadi dua kelompok. Sementara peserta akhwat dikumpulkan ke dalam tiga kelompok. Masing-masing permainan dimulai dengan babak penyisihan. Lalu pemenang dari kelompok ikhwan dan pemenang dari kelompok akhwat bertemu di babak final.

Permainan-permainan lain yang tentu tak kalah seru adalah estafet bola, berburu koin, estafet tali, dan tebak kata. Yang terakhir ini mengadopsi format acara di salah satu stasiun televisi dimana seorang peserta harus menebak sebuah kata dengan menanyakan klu benar atau salah kepada anggota kelompok yang lain.

"Nama negara...", tanya si peserta. Yang lain menimpali, "Tidak... tidak..." Si peserta kembali bertanya "Nama kota..." Kali ini benar. Iya lantas mengerjar, "Kota di Eropa..." Ternyata bukan. "Kota di Afrika..." Lagii-lagi bukan. "Kota di Asia...", desaknya lagi. "Benar... Benar..."

Ia lantas mengulik lebih lanjut, "Kota di Arab..." Dan benar. Lalu ia mulai menyebutkan beberapa nama kota, mulai dari, "Teheran...", lalu "Damaskus..", kemudian "Qatar". Jengkel mungkin karena tak kunjung benar, si peserta menjawab secara random, "Seoul..." Haha, tawa pecah.

Kegiatan diakhiri ketika matahari semakin meninggi. Kelompok Ikhwan Tansri menjadi jawara pagi ini. Diikuti oleh Kelompok Akhwat KLM dan Kelompok Akhwat Jet. Keringat berlelehan. Alhamdulillah ada teh o ais yang menyejukkan. Juga bubur kacang hijau yang sedap.
Melingkar :)
Sembari menikmati kudapan, Dr. Ali Sophian menyampaikan taujih singkat tentang tarbiyah dan ukhuwah. Beliau menggarisbawahi pentingnya membangun dan mengeratkan persaudaraan. Apalagi, tarbiyah adalah kerja sepanjang hidup. Ukhuwah penting untuk mengikat molekul-molekul semangat dan keilmuan sehingga kerja-kerja tarbiyah kita dapat lebih masif dan bermakna. 

Ukhuwah juga saling menguatkan, saling mendukung. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan yang acap kali berbeda. Di sini lah tali ukhuwah mengaktifkan fungsi untuk saling mengisi.

"Kegiatannya seru banget. Mengasah otak. Juga lumayan mengeluarkan keringat." ungkap salah seorang peserta, Rulli Mandafar, mahasiswa jurusan Mass Communication. Alhamdulillah ya masih bisa menggunakan sedikit waktu di masa-masa yang sebenarnya hectic ini untuk kembali menyegarkan semangat, merapatkan ukhuwah, dan mensyukuri segala karunia Allah. Sampai jumpa di family gathering selanjutnya. 

Peserta Family Gathering Fotar, sebagian sudah pulang, hehe. Pagi, 7 Mei 2015. Matahari meninggi. Kampus IIUM sudah sibuk. Sebagian ...

Akmal Sjafril di IIUM

Tarik ulur pendapat tentang isu LGBT tengah menghangat akhir-akhir ini. Dikemas melalui berbagai acara di layar kaca, mengudara dari pagi buta hingga malam larut. Pun di sosial media, adu pendapat bahkan tak jarang berakhir pada pemblokiran. Bilik-bilik kajian riuh. Fotar pun berusaha untuk mengulik lebih jauh isu ini. Jumat (19/2) lalu berkesempatan hadir ke forum diskusi Fotar adalah ustaz Akmal Sjafril, peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS). untuk kemudahan, selanjutnya akan kami tulis Akmal saja.

Perang Pemikiran

Memulakan diskusi, Akmal menggarisbawahi betapa besarnya tantangan yang dihadapi oleh umat Islam era ini. Bila di masa silam umat Islam harus turun ke medan perang untuk menegakkan panji-panji tauhid, maka masa ini umat Islam harus menghadapi peperangan yang lebih rumit: perang pemikirin, ghazwul fikri.

“Ghazwul fikri yang harus kita hadapi ini lebih berbahaya daripada perang bersenjata. Kekalahan di perang fisik muaranya adalah syuhada. Sementara kalah dalam perang pemikiran akan menjadikan kita budak, boneka!", tegasnya.

Serangan pemikiran sendiri dilancarkan melalui berbagai cara. Satu diantaranya adalah propaganda media yang memupuk pelabelan umat Islam sebagai teroris. Peristiwa WTC lima belas tahun silam misalkan, selalu meletakkan umat Islam sebagai dalang teror. Tetapi ternyata fakta dan kajian para ahli rancang bangun mengatakan lain.

"Jelas, propaganda semacam itu tak jarang membuat umat Islam ragu membela agama karena takut label terorislah yang malah akan diterima!", ujarnya kemudian.

Itulah mengapa Akmal meyakini paham seperti liberalisme sangat bertentangan dengan Islam. Bukan hanya karena akan membuat umat Islam enggan membela agamanya, tetapi juga meninggalkan pedoman agama atas nama kebebasan. "Tuntunan kita sebagai Muslim kan sudah jelas, Qur'an dan Hadist. Islam salah satu maknanya adalah patuh. Makna lainnya adalah selamat. Jadi kalau mau selamat, ya harus patuh. Apa yang kita imani? Qur'an dan Hadist atau kebebasan?", tanyanya retoris.

LGBT dan Pengetahuan Semu

Lalu bagaimana dengan isu LGBT? Pengajar Universitas Ibn Khaldun Bogor ini berpendapat bahwa itu adalah bagian dari perang pemikiran yang harus umat Islam hadapi. Menurutnya, ajaran-ajaran baru diperkenalkan untuk mengaburkan konsep-konsep yang sudah lebih kukuh.

Konsep jenis kelamin manusia misalnya, dikaburkan menjadi gender. Bahkan dibuat seolah-olah keduanya adalah sinonim, padahal tidak. Jenis kelamin memiliki konsep pengelompokan dan identifikasi yang jelas: laki-laki dan perempuan. Sementara gender memburamkan pengelompokan tersebut menjadi sebatas ciri-ciri: maskulin dan feminin. Worldview barat mempercayai bahwa keduanya adalah konstruksi sosial yang cair, maskulin tidak harus laki-laki dan feminin tidak harus perempuan.

Berangkat dari sinilah konstruksi baru lantas dibangun: hubungan antar lelaki (homoseksual) atau antar perempuan (lesbian) seolah tidak masalah selama mempertemukan kedua konsep gender, maskulin dan feminin.

Dari konsep yang sama lantas muncul biseksual, mereka yang memiliki kecenderungan untuk berpasangan baik dengan sesama maupun lawan jenis. Dari pembelokan istilah itu pula kemudian dimunculkan konsep transgender: orang yang jenis kelamin dan identitas gendernya tidak bersesuaian.

Konsep-konsep baru tersebut lantas disebarkan (seolah) sebagai pengetahuan. Istilah-istilah baru digunakan. Tentu saja agar lebih mudah diterima oleh umum. Istilah homosexual semisal, baru muncul sekitar awal abad keduapuluh. Sebelumnya terma ini dikenal sebagai sodomite, merujuk pada kaum Sodom yang dilaknat dalam Injil. Dengan penggunaan istilah baru ini, dibuat seolah-olah hal tersebut adalah hal wajar, sekadar bagian dari seksualitas. Bahkan lantas dikenal istilah gay, yang dalam bahasa Inggris juga bermakna bahagia. Upaya pembangunan opini tentu saja.

Pun dengan istilah AIDS, yang digunakan untuk 'memperhalus' istilah Gay-related immune deficiency (GRID) yang sudah terlebih dahulu diusulkan. Merujuk pada satu klaster penyakit yang merebak di kalangan homoseksual di New York and California bagian selatan.

Yang paling lucu menurut Akmal adalah istilah phobia yang kerap kali dilekatkan pada mereka yang tegas menolak LGBT. "Phobia itu termasuk gangguan mental lhoh. Jadi kita yang tegas menolak ketidaknormalan ini malah disebut terganggu mentalnya? Lucu kan? Jangan-jangan malah mereka yang phobia pada kenormalan, normal-phobia.", ujarnya terkekeh.

Lawan

Akmal menegaskan bahwa saat ini umat Islam seharusnya tidak lagi terkungkung wacana boleh atau tidak, dukung atau anti. Qur'an sudah secara jelas menjelaskan sikap oposannya melalui kisah kaum kaum nabi Luth. Akmal menjelaskan pula struktur unik surat al-Hijr yang memuat kisah nabi Muhammad yang diolok-olok orang-orang kafir dan ditantang untuk mendatangkan malaikat di bagian awal surat.

Tantangan tersebut lantas dijelaskan melalui ayat 8 surat tersebut, Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tiadalah mereka ketika itu diberi tangguh. Dan 'diberikan contoh' melalui turunnya malaikat untuk menghukum umat Luth yang sodom pada paruh kedua surat.

Akmal menandaskan, dengan apa yang sudah dijelaskan panjang lebar dalam Al Qur'an, umat Islam harus mulai mengalihkan energinya untuk melakukan perlawanan. "LGBT itu salah. Dasarnya jelas. Kita harus lebih fokus ke bagaimana melawan ide-ide pembenaran konsep tersebut!"

Dalam konteks dakwah, Akmal berpendapat kita harus bisa membangun satu konstruksi ide yang tidak hanya menunjukkan bahwa konsep yang mereka usung itu salah, tetapi juga tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Bila mereka gencar menyebarkan opini mereka di sosial media semisal, maka kita juga tidak boleh kalah gencarnya mengingatkan umat. Akmal pun mengisahkan pengalamannya yang sampai diblokir oleh Facebook karena mengunggah grafis bahwa LGBT adalah penyakit.

Dan karena itu penyakit, Akmal yakin bahwa kaum LGBT bisa disembuhkan, sebagaimana juga disebutkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia dalam pernyataan sikapnya.

"Yang paling bersesuaian dengan kiprah teman-teman mahasiswa pada akhirnya kerja-kerja akademik. Jangan sampai teman-teman ini iya-iya saja dijejali dengan berbagai pengetahuan semu. Bolong-bolong logikanya akan sangat mudah dikenali kok. Jangan takut untuk mengatakan mereka itu salah!"

Wallahu a’lam bish shawaab.

*Pengelompokan bagian-bagian catatan ini semata dilakukan untuk mempermudah pembacaan. Pembicara sendiri membagi pembicaraannya ke dalam tiga topik umum: ghazwul fikri, liberalisme, dan LGBT. Catatan ini juga mengikutkan sebagian besar materi tanya jawab. (Red)

Akmal Sjafril di IIUM Tarik ulur pendapat tentang isu LGBT tengah menghangat akhir-akhir ini. Dikemas melalui berbagai acara di la...


Jum'at (12/2) lalu Forum Tarbiyah menyelenggarakan diskusi terbuka bertema 'Ketika Cinta Bersemi'. Hadir sebagai pembicara adalah Qoriatul Hasanah (Mahasiswa Master IRK) dan Ghazi Azhari (Mahasiswa Ekonomi). Sementara pemantik diskusi dipegang oleh Nurul Anisak, mahasiswa Master of Finance.

Dikemas dengan format santai, diskusi dibuka dengan pemaparan materi tentang fenomena hari kasih sayang. Ghazi memaparkan latar belakang keberadaan hari tersebut yang berakar dari kebudayaan Pagan. Dan berlanjut ke masa kuno Romawi.

Sementara Qori yang juga lulusan Al-Azhar mengupas bagaimana Islam memandang fenomena tersebut. Ia menyitir pendapat Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa sesungguhnya perayaan atau hari raya adalah syari'at. Sehingga yang manusia harus ikuti adalah apa-apa yang Allah SWT syari'atkan saja. Dan jelas hari kasih sayang bukanlah bagian syari'at yang dimaksud.

Diskusi semakin seru begitu memasuki sesi tanya jawab. Beberapa bahkan menyelipkan curhat dalam tanyanya. Warna-warna kisah cinta mengalir deras. Mulai dari masalah long distance relationship, hubungan tanpa status, batas-batas kekaguman, hingga perjodohan dan konsep taaruf.

Qori mengingatkan bahwasanya hati adalah area Allah, Sang Pemilik Hati. Artinya ketika terjadi gejolak dalam hati, maka manusia harus mengembalikannya kepada Allah. Ia menceritakan kembali kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda. Salman meminta sahabatnya tersebut untuk menemaninya melamar seorang wanita Anshar. Tetapi ternyata wanita tersebut lebih tertarik pada si pengantar, daripada pelamarnya.

"Tetapi, Salman paham bahwa Allah-lah Sang Penggerak Hati. Ia lapang dada menerimanya. Bahkan menyerahkan mahar yang telah ia siapkan kepada Abu Darda dan mau menjadi saksi pernikahan mereka.", tuturnya.

Ghazi pun mengamini hal tersebut. Ia menilai bahwa gejolak dalam hati manusia adalah bentuk ujian dari Allah untuk melihat seberapa besar cinta manusia kepada Allah SWT.

"Semakin besar cinta kita kepada Allah, maka semakin minim gejolak hati yang kita rasakan. Kenapa? Karena kita takut pada Allah. Kita tahu apa yang dilarang dan apa yang tidak!"

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa kita tidak boleh serta merta memposisikan orang-orang yang belum bisa 100% mengamalkan tuntunan Islam tersebut sebagai orang salah. Proses pemahaman dan pengajaran harus dilakukan dengan lemah lembut dan perlahan-lahan.

Pada intinya, ketika cinta bersemi di hati, rayulah Sang Pemilik Hati karena sungguhlah Ia Maha Mengetahui. Dan jangan lupa: jaga hati dan terus berbaik sangka. Gunakan waktu untuk memperpantas diri, seperti yang umum disebutkan: Bagaimana Allah mau ngasih kita jodoh yang kualitas A sementara kita sendiri masih D? Betul nggak Mblo?

Wallahu a'lam bishawab.

Jum'at (12/2) lalu Forum Tarbiyah menyelenggarakan diskusi terbuka bertema 'Ketika Cinta Bersemi'. Hadir sebagai pembicara adala...

KCB
Jum'at (12/2) lalu Forum Tarbiyah menyelenggarakan diskusi terbuka bertema 'Ketika Cinta Bersemi'. Hadir sebagai pembicara adalah Qoriatul Hasanah (Mahasiswa Master IRK) dan Ghazi Azhari (Mahasiswa Ekonomi). Sementara pemantik diskusi dipegang oleh Nurul Anisak, mahasiswa Master of Finance.

Dikemas dengan format santai, diskusi dibuka dengan pemaparan materi tentang fenomena hari kasih sayang. Ghazi memaparkan latar belakang keberadaan hari tersebut yang berakar dari kebudayaan Pagan. Dan berlanjut ke masa kuno Romawi.

Sementara Qori yang juga lulusan Al-Azhar mengupas bagaimana Islam memandang fenomena tersebut. Ia menyitir pendapat Ibn Taimiyah yang menyatakan bahwa sesungguhnya perayaan atau hari raya adalah syari'at. Sehingga yang manusia harus ikuti adalah apa-apa yang Allah SWT syari'atkan saja. Dan jelas hari kasih sayang bukanlah bagian syari'at yang dimaksud.

Diskusi semakin seru begitu memasuki sesi tanya jawab. Beberapa bahkan menyelipkan curhat dalam tanyanya. Warna-warna kisah cinta mengalir deras. Mulai dari masalah long distance relationship, hubungan tanpa status, batas-batas kekaguman, hingga perjodohan dan konsep taaruf.

Qori mengingatkan bahwasanya hati adalah area Allah, Sang Pemilik Hati. Artinya ketika terjadi gejolak dalam hati, maka manusia harus mengembalikannya kepada Allah. Ia menceritakan kembali kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda. Salman meminta sahabatnya tersebut untuk menemaninya melamar seorang wanita Anshar. Tetapi ternyata wanita tersebut lebih tertarik pada si pengantar, daripada pelamarnya.

"Tetapi, Salman paham bahwa Allah-lah Sang Penggerak Hati. Ia lapang dada menerimanya. Bahkan menyerahkan mahar yang telah ia siapkan kepada Abu Darda dan mau menjadi saksi pernikahan mereka.", tuturnya.

Ghazi pun mengamini hal tersebut. Ia menilai bahwa gejolak dalam hati manusia adalah bentuk ujian dari Allah untuk melihat seberapa besar cinta manusia kepada Allah SWT.

"Semakin besar cinta kita kepada Allah, maka semakin minim gejolak hati yang kita rasakan. Kenapa? Karena kita takut pada Allah. Kita tahu apa yang dilarang dan apa yang tidak!"

Meski demikian, keduanya sepakat bahwa kita tidak boleh serta merta memposisikan orang-orang yang belum bisa 100% mengamalkan tuntunan Islam tersebut sebagai orang salah. Proses pemahaman dan pengajaran harus dilakukan dengan lemah lembut dan perlahan-lahan.

Pada intinya, ketika cinta bersemi di hati, rayulah Sang Pemilik Hati karena sungguhlah Ia Maha Mengetahui. Dan jangan lupa: jaga hati dan terus berbaik sangka. Gunakan waktu untuk memperpantas diri, seperti yang umum disebutkan: Bagaimana Allah mau ngasih kita jodoh yang kualitas A sementara kita sendiri masih D? Betul nggak Mblo?

Wallahu a'lam bishawab.

KCB Jum'at (12/2) lalu Forum Tarbiyah menyelenggarakan diskusi terbuka bertema 'Ketika Cinta Bersemi'. Hadir sebagai pemb...


Hi guys apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT yaa. Oiya Alhamdulillah setelah terpilihnya Ketua FOTAR periode 2015/2016 Amjad Dhiyaulhaq, pada hari Jumat, 18 Desember kemarin telah dilaksanakan musyawarah kerja pengurus FOTAR. Nah, mau tahu kan siapa saja yang akan membersamai fotar selama satu tahun ke depan, let's find out:

Penasehat:
Ust. Rio Enrisman
Ust. Muntaha Artalim
Ust. Iqbal Mokhtar

Ketua: Amjad Dhiyaulhaq
Wakil Ketua: Kieren Akbar
Sekretaris dan Bendahara: Yusuf Ali

Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia
Ketua: Zulfani Ahmad Zuhri
Ratih Febrian
Ulfa Oktavia Adryani
Zakiyyah Halimah
Shofia Shabrina
Fadhilah Asaadah Abdul Aziz
Muhammad Hizbi Islami
Rasfiuddin bin Sabaruddin

Divisi Pendidikan dan Sosial
Ketua: Muhammad Rizki Baihaqi
Muhammad Yuskahar Muharram
Fikriyudin
Qoriatul Hasanah
Subainah
Tsabat Robbani

Divisi Syiar Media
Ketua: Salsabila
Bastian Hidayat
Faris Ar Rasyid
Arini Diyah Fadhila
Afifah Dinar

Divisi An nisa
Ketua: Siti Hanifah Muslikhah
Azka Sa’dan
Yunita Zakiya
Mubasysyarah Mardhiyah
Nissa Amrina

Nah..sekarang udah tahu kan siapa saja pengurus baru FOTAR, kita doakan bersama semoga kepengurusan kali ini dapat membuat FOTAR lebih baik lagi dan memberi manfaat untuk kita semua dari setiap program-programnya. Oke deh segitu dulu ya, sampai jumpa dan terus semangat #YukMenebarKebaikan

Hi guys apa kabar? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT yaa. Oiya Alhamdulillah setelah terpilihnya Ketua FOTAR periode 2015/2016 Amjad...

Alhamdulillah, berkat rahmat dan kasih sayang Allah, kepengurusan FOTAR periode 2014-2015 resmi berakhir pada hari ini, 7 November 2015. Kepengurusan yang dipimpin oleh Amjad Dhiyaulhaq ini telah berhasil melaksanakan tugasnya dan mempertanggung jawabkannya dengan baik. Melalui Musyawarah Akbar yang diadakan pada hari yang sama, LPJ setiap divisi telah dipaparkan dan dapat diterima oleh forum dengan sedikit catatan.
Selamat kepada para pengurus yang sudah tuntas menunaikan amanahnya selama satu tahun ini. Semoga Allah lipatgandakan pahala atas amal kebaikan yang telah kita lakukan karenaNya. Namun, pembubaran ini bukanlah akhir dari sebuah amal dakwah, karena hakikatnya dakwah itu sepanjang hayat.
Terimakasih wa jazaakumullaahu ahsanal jazaa’ terucap kepada ketua dan para pengurus atas kontribusinya yang tak terhingga, juga kepada teman-teman yang tak henti berikan dukungan kepada FOTAR. Permohonan maaf yang sebesar-besarnya terungkap jika kinerja pengurus periode 2014-2015 belum semaksimal yang diharapkan.
Fotarrr

**********

Selain pembubaran, pemilihan ketua untuk periode 2015-2016 juga langsung diselenggarakan dalam musyawarah ini. Setelah melalui beberapa tahap dan diakhiri dengan musyawarah, maka dengan berbagai pertimbangan, diputuskanlah Saudara Amjad Dhiyaulhaq untuk kembali menahkodai kapal FOTAR ini.
Dengan terpilihnya Amjad sebagai ketua, maka pengurus dan anggota FOTAR harus saling membantu dalam menjalankan amanah ini. Mengutip patahan kata yang diungkap oleh Dr. Iqbal setelah penerimaan jabatan, bahwa “Ketua terpilih belumlah selamat, dia hanya bisa selamat jika dia telah berhasil menuntaskan amanahnya dengan baik, dan kita yang memilihnya-lah yang akan membuatnya selamat (red: membantu selama masa jabatan)”.

Semangat berfikir, belajar, bekerja, beramal, dan berkontribusi untuk pimpinan beserta jajaran FOTAR periode 2015-2016. Barakallah!

Alhamdulillah, berkat rahmat dan kasih sayang Allah, kepengurusan FOTAR periode 2014-2015 resmi berakhir pada hari ini, 7 November 2015. K...

Rihlah FOTAR adalah agenda wajib tahunan untuk menyambut teman-teman yang baru bergabung menadi student IIUM. Bahkan rihlah ini menjadi acara yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Karena selain having fun, rihlah juga bertujuan untuk saling mengenal, saling mempererat ukhuwah, dan yang ngga kalah pentingnya rihlah juga bisa lho jadi sarana peningkat keimanan :)

Nah, tepat tanggal 7 Februari lalu, semimggu setelah mejeng di kampus, Rihlah FOTAR 2015 akhirnya nongol. Rihlah kali ini ngga kalah seru dengan Rihlah-Rihlah sebelumnya. Agar lebih meyakinkan pembaca dengan keseruan Rihlah 2015, ini nih ada catatan kocak salah seorang peserta. Simak ya!

*****

Hari ini tanggal 7 Februari 2015 kami pergi berekreasi bersama dalam perjalanan yang luar biasa dan pengalaman yang menarik bersama teman-teman di acara rihlah Fotar. Dalam perjalanan kami yang pertama yakni menuju ke taman layang-layang, tak lupa sebelum berangkat kami berdoa bersama di dalam bus tuk mengharapkan lindungan kepada Allah SWT dari apa-apa yang dikhawatirkan, karna hanya kepada Allah SWT tempat kita berlindung pun meminta pertolongan. Dalam perjalanan menuju taman layang-layang pagi itu, kami disuguhi snack untuk mengganjal perut yang sedari pagi belum dikasih sarapan hehe.. Okay, back to story, Alhamdulillah kita hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk tiba di tempat tujuan yang pertama.

Setibanya disana, kami begitu senang dan bahagia dipadu dengan gurauan-gurauan tuk penikmat suasana. Di pagi itu kami memulai acara dengan mengadakan ta’aruf agar saling mengenal satu sama lain. Setelah itu kami bermain sebuah game yakni menebak ciri-ciri sahabat Rasulullah dan yang kalah akan mendapatkan hukuman selfie bersama orang yang ada disekitar taman layang-layang. Selanjutnya game yang gak kalah seru dan menarik ialah mencari teka-teki disetiap pos yang letak pos tersebut ada yang dekat dan ada pula yang jauh dan sulit untuk menemukannya dan di setiap pos kita diminta untuk menjawab, memperagakan,  dan membuat berdasarkan tantangan yang diberikan disetiap kelima pos tersebut.

Ada yang bisa menemukan posdengan cepat dan begitu pula sebaliknya sampai ada yang mengelilingi danau dan nggak jumpa pos sama sekali (kelompok ane nih hehe..), dan setelah bermain dengan banyak keseruan dan kelucuan yang dirasakan para peserta dan juga panitia, tibalah saatnya kami menikmati makan siang sambil beristirahat sejenak dan dilanjutkan dengan shola tdhuzur. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan kedua untuk pergi ke sungai kanching dan setibanya di sungai kaching untuk tiket masuk hanya RM 5 cukup murahkan!! cuma nambah RM 3 dari harga nasi lemak hehe..

Nah, dengan tempat yang bagus dan waterfall yang indah. Begitu datang kami langsung melihat sekumpulan monyet-monyet nakal dan lucu dari hutan gunung yang ada di sungai kanching. Pada saat itu kami langsung berkumpul di tempat yang teduh kami bercerita sambil ta’aruf memperkenalkan satu sama lain, dan akhirnya saat selesai ta’aruf terjawab sudah rasa penasaran yang di dalam diri masing-masing penasaran itu siapa dan ini siapa, dan menambah keakraban dan rasa persaudaraan saat dimana kami membagi dua kelompok, ikhwan dan akhwat untuk saling share dan bertanya-tanya tentang apa itu fotar dan juga kami sempat diberikan beberapa masukan dan motivasi.

Sudah 30 menit tak terasa berbincang-bincang di dalam hati sudah tak sabardan ingin segera menyambangi waterfall untuk menyegarkan badan sambil BBQ-an. Sampainya diatas, setengah populasi ikhwan udah naik ketempat yang lebih tinggi di waterfall atas buat nyebur, sementara para kakak-kakak Master Chef yang baik hati sibuk dengan panggangan di sela-sela memanggang sosis, kami kecurian beberapa sosis yang dibawa lari oleh simonyet (eeh dasar Monyeeet!!) ternyata monyetnya gak hanya lucu tapi juga ahli dalam kecepatan tangan^___^. tapi tak mengapa karna simonyet belum pernah nyobain sosis jadi di ikhlasin aja.

Setelah seneng dan kenyang bareng maka selesailah acara kami dan kami segera turun ke bawah dan siap-siap kembali ke bus untuk pulang ke UIA. Eiits sebelum pulang kami tak lupa untuk selfie tapi bukan self maksudnya selfie rame-rame hehe.. Nah, setelah itu kami bersegera untuk cepat masuk ke dalam bus supaya gak dimarahin lagi tentang IMAN & TAQWA hehe…


(Oleh: Alfian R.S.)

*****

Gimana? Seru kan?! Seru dooong.. Nah, bagi yang belum sempat ikutan, jangan berkecil hati ya sob. InsyaAllah FOTAR masih akan terus mengadakan Rihlah-Rihlah berikutnya ke tempat-tempat yang lebih menariik dan menantang. Do'akan aja rejeki FOTAR lancar dan berkah. Aaamiin.. :)

Rihlah FOTAR adalah agenda wajib tahunan untuk menyambut teman-teman yang baru bergabung menadi student IIUM. Bahkan rihlah ini menjadi aca...

Khusyu'
Sebagai seorang muslim, tentu kita harus selalu memperbaharui semangat kita dalam dakwah ini. Agar barisan dakwah ini selalu diisi oleh jiwa-jiwa terbaharui dengan semangat pembaharuan. Mengingat ini, divisi PSDM FOTAR untuk kedua kalinya telah sukses mengadakan Advance Training for Muslim Ranker bagi pengurus dan anggota FOTAR.

Training kali ini ngga kalah seru lho dari training yang pertama. Dengan menghadiri dua pembicara yang sangat berpengalaman dalam dakwah (sekolah dan kampus), training ini seolah telah mengembalikan gairah dakwah FOTAR yang mungkin sempat memudar.

Sesi pertama dengan topik "bagaimana menyentuh hati" yang disampaikan oleh pemuda nan juga berjiwa muda, Ghazi Azhari, telah berhasil menyihir peserta dengan berbagai pengalamannya yang sangat inspiring dalam menyelinap lalu menyentuh hati siapa saja yang ditemuinya.Pemaparannya membuat banyak peserta tertohok dan berteriak dalam hati "selama ini saya kemana aja?! ngapain aja?! >.<".

Sesi kedua yang ngga kalah ketje dengan tema "sholeh pribadi dan sosial" diisi oleh senior dakwah kampus yang semangat mudanya tak pernah padam, Mbak Yuni Yulia Farikha, juga telah membuat mata-mata peserta tak henti-hentinya terpana. Mahasiswi Phd. ini ketika S1 dulunya merupakan mahasiswi yang aktif bergabung dan berdakwah dalam 8 organisasi. Subhanallah!

Dengan segala keterbatasan persiapan dan dengan izin Allah, acara ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Training ini diharapkan bisa meningkatkan semangat, mutu, dan kualitas kerja para pasukan kebaikan, baik bagi peserta training maupun para pembaca blog ini yang belum berkesempatan hadir. Nantikan terus ya training-training FOTAR berikutnya yang ngga kalah keren!

Nahnu du'at qobla kulli syai'!

Khusyu' Sebagai seorang muslim, tentu kita harus selalu memperbaharui semangat kita dalam dakwah ini. Agar barisan dakwah ini sela...

Cinta. Satu kata berjuta makna. Tak ada seorangpun yang bisa mendefinisikannya secara sempurna. Karena itulah cinta, tak bisa diungkap sepenuhnya dengan kata tapi harus dibarengi dengan aksi nyata.

Semarak cinta di kalangan pemuda membuat para aktifis FOTAR yang berkolaborasi dengan PPI-IIUM untuk menyelenggarakan acara yang menjadikan cinta sebagai tema utama. Dengan rahmat Allah, acara yang bertajuk "Antara Aku dan Cinta (AADC): Saatnya Mengupas Makna Cinta yang Sebenarnya" ini terlaksana sepenuhnya pada tanggal 13 Februari 2015.

Acara yang mengangkat isu terhangat ini menghadirkan tiga pembicara super yang dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama diisi oleh kak Rosalina Risman yang secara khusus membahas cinta dalam perspektif psikologi, dan kak Witri Annisa yang memaparkan cinta dari pandangan islam, agar cinta tak hanya sekedar cinta tapi juga diridhoi Allah ta'ala.

Pada sesi kedua acara ini, Bapak Zulfan Haidar hadir untuk memberikan penjelasan lebih tentang cinta dan tentang Valentine's day serta larangan untuk merayakannya, berhubung esok harinya adalah Hari Valentine. Di sesi ini juga hadir adik-adik dari GIBS (Global Islamic Boarding School) yang menambah keseruan dengan penampilan tari mereka.

Dengan kolaborasi pembicara-pembicara hebat ini, acara AADC tampil dengan sempurna, menarik, heboh, dan tidak membosankan. Para panitia berharap agar tujuan dan esensi dari acara ini dapat terlaksana dan diaplikasikan dengan bahagia, baik dari pihak panitia maupun peserta.

Cinta itu indah jika Kau dan Aku = KUA :D

Cinta. Satu kata berjuta makna. Tak ada seorangpun yang bisa mendefinisikannya secara sempurna. Karena itulah cinta, tak bisa diungkap sepen...

Dalam mempertahankan keutuhan dan kesinambungan sebuah organisasi dan meningkatkan kualitas para pemegang amanah, diperlukan renewal atau pembaharuan niat dan semangat dalam sama-sama bekerja sama dan berukhuwah.

Mengingat hal itu, Divisi PSDM Fotar mengadakan sebuah workshop menarik bagi para pengurus Fotar. Workshop yang bertema "Advance Training for Muslim Ranker" ini diadakan kemarin, 22 November 2014, bertempat di Econs. Building.

Pembicara workshop ini adalah Pak Dimas Pradhasumitra, seorang mahasiswa S3 di Universiti Malaya. Pada sesi pertama beliau memaparkan tentang Syumuliyatul Islam (Kesempurnaan Islam) dan pada sesi kedua tentang Amal Jama'i (Bekerja sama). Beliau memaparkan dengan gaya yang menarik sehingga tak satupun peserta yang merasa ngantuk selama workshop. :D

Selain itu di akhir setiap sesi, ada aktifitas dan games yang seru selama workshop yang disajikan oleh pembicara dan juga panitia. Dan inilah yang membuat Workshop ini tidak membosankan sama sekali.

Setelah acara ini selesai, diharapkan para peserta yang juga pengurus Fotar memiliki semangat baru yang menggeliat di hati-hati mereka untuk kembali bekerja, berdakwah, dan menebar benih-benih keberkahan disetiap sudut-sudut kehidupan dan juga memiliki niat yang terus menerus diperbaharui yaitu meraih Ridho Allah.

Pesan Pak Dimas Pradhasumitra untuk kita semua:
"Ketika kita hidup untuk diri sendiri, maka umur kita selesai hanya dalam 3 baris. Namun ketika kita hidup untuk orang lain, in syaa Allah umat manusia akan mengingat kita disetiap karya-karya mereka."

  إِنَّ الله يُحِبُ الذين يُقاتِلون في سَبيلِه صَفاً كَأَنَّهُم بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ


Dalam mempertahankan keutuhan dan kesinambungan sebuah organisasi dan meningkatkan kualitas para pemegang amanah, diperlukan renewal atau p...

Alhamdulillah
Dalam mempertahankan keutuhan dan kesinambungan sebuah organisasi dan meningkatkan kualitas para pemegang amanah, diperlukan renewal atau pembaharuan niat dan semangat dalam sama-sama bekerja sama dan berukhuwah.

Mengingat hal itu, Divisi PSDM Fotar mengadakan sebuah workshop menarik bagi para pengurus Fotar. Workshop yang bertema "Advance Training for Muslim Ranker" ini diadakan kemarin, 22 November 2014, bertempat di Econs. Building.

Pembicara workshop ini adalah Pak Dimas Pradhasumitra, seorang mahasiswa S3 di Universiti Malaya. Pada sesi pertama beliau memaparkan tentang Syumuliyatul Islam (Kesempurnaan Islam) dan pada sesi kedua tentang Amal Jama'i (Bekerja sama). Beliau memaparkan dengan gaya yang menarik sehingga tak satupun peserta yang merasa ngantuk selama workshop. :D

Selain itu di akhir setiap sesi, ada aktifitas dan games yang seru selama workshop yang disajikan oleh pembicara dan juga panitia. Dan inilah yang membuat Workshop ini tidak membosankan sama sekali.

Setelah acara ini selesai, diharapkan para peserta yang juga pengurus Fotar memiliki semangat baru yang menggeliat di hati-hati mereka untuk kembali bekerja, berdakwah, dan menebar benih-benih keberkahan disetiap sudut-sudut kehidupan dan juga memiliki niat yang terus menerus diperbaharui yaitu meraih Ridho Allah.

Pesan Pak Dimas Pradhasumitra untuk kita semua:
"Ketika kita hidup untuk diri sendiri, maka umur kita selesai hanya dalam 3 baris. Namun ketika kita hidup untuk orang lain, in syaa Allah umat manusia akan mengingat kita disetiap karya-karya mereka."

  إِنَّ الله يُحِبُ الذين يُقاتِلون في سَبيلِه صَفاً كَأَنَّهُم بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ

Alhamdulillah Dalam mempertahankan keutuhan dan kesinambungan sebuah organisasi dan meningkatkan kualitas para pemegang amanah, diperl...

Assalamu'alaikum guys!
Apa kabar semuanya? Sehat-sehat aja kan?

Hari ini, tepatnya Ahad, 16 november 2014, kami dari keputrian ngadain acara seru looooo!! namanya Happy weekend yang bertema "TO BE WOW I"

Mau tau ga gimana acaranya??
Yuk mari kita intip kegiatannya.

*******

"Happy weekend, kami menamainya dengan ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena diselenggarakan di akhir pekan untuk berhappy-ria melepas kepenatan belajar selama ini. Acara ini dimulai dari pukul 7.30 – 10.00 am. Happy weekend ini diselenggarakan khusus untuk akhwat-akhwat shalihah nan ketje insyaAllah.

Ada berbagai jenis kegiatan didalamnya seperti sepak balon, badminton sambung kata, estafet games, bingo virtual, skipping in group, dan basket. Selain perlombaan-perlombaan yang seru, pihak keputrian juga menyediakan doorprize yang unik dan juga ada free breakfast yang lezat, nyam-nyam. Wah wah wah, bener-bener ga rugi deh, hehe..

Mau tau betapa serunya acara ini?
Scroll down terus yak :)

Para peserta dan panitia foto bareng setelah having fun di "Happy Weekend"
Lagi dengerin instruksi panitia. Ada yang fokus dengerin, ada yang fokus ke kamera :D
Ahya, pemenang bingo virtual
Juara 1 lomba antar team
Juara 2 lomba antar team
Hya hya! Lebih tinggi lagi ukhtiy!
Oo ow.. Nyaris masuk :D
Ini nih, pemain belakang layar (depan layar juga sih :D).
Gimana? Seru kan?!!
Buat yang belum bisa hadir, jangan kecewa dan jangan bersedih.
Tenang aja, masih banyak lagi acara-acara yang ngga kalah seru.
Jangan lewatkan ya akhwat-akhwat shalihah...
Terima kasih semuanya yang telah ikut berpartisipasi pada ''Happy Weekend".

By: Divisi Keputrian FOTAR

Assalamu'alaikum guys! Apa kabar semuanya? Sehat-sehat aja kan? Hari ini, tepatnya Ahad, 16 november 2014, kami dari keputrian ngada...