Showing posts with label Umum. Show all posts

Gambar : keranews.org

“Uang diciptakan untuk dihabiskan” kata Pak Ahmad Gozali (Pakar Keuangan dan Emas) pada Gebyar Wirausaha, Ahad 22 April 2012 lalu. Namun kebanyakan orang caranya salah dalam menghabiskan uang.
Biasanya urutannya begini……

1. Biaya Hidup
2. Tabungan
3. Bayar Hutang
4. Sedekah/ Zakat

Padahal, itu cara paling sesat !!!Dengan cara diatas, berapapun uangnya, akan habis hanya untuk biaya hidup, jangankan nabung, bayar utang, apalagi sedekah. Lalu harus bagaimana? DIBALIK AJA URUTANNYA!

1. Sedekah/Zakat
2. Bayar Hutang
3. Tabungan
4. Biaya hidup

Sekarang mari bahas satu per satu….

1. SEDEKAH
Kenapa sedekah  harus diawalkan? Karena Allah yang memberikan rezeki kepada kita, maka lakukanlah apa yang Allah senangi dulu. Ini belum berbicara tentang kejaiban sedekah yang banyak dirasakan orang. Sedikit cerita, setelah saya ikut acara Mas Ippho, saya rekomendasikan bapak saya untuk ikut. Beliau ikut yang di Solo. Seperti biasa, diakhir acara, ada sesi sedekah gila-gilaannya.
Bapak pun ikut sedekah. Saya nggak tahu jumlahnya. Yang saya tahu, niatnya agar bisa Umroh. Sepulang dari acara, belum sampai rumah, ada yang telepon minta ditemani Umroh. Ini beneran!!! Alhamdulillah. “Sedekahnya boleh 20 % , tapi keyakinannya harus 100%” kata Mas Ippho.

Coba deh, setiap kali uang, segera sisihkan untuk sedekah. Bukan nunggu sisa. Nggak mau kan kalo dikasih sisa? kecuali sisanya Raja Salman :D

2. BAYAR HUTANG
Nah, ini sangat penting. Harusnya ini diawalkan. Namun jika hutangnya terlalu banyak dan belum mampu untuk bayar sekaligus, mending dibantu dengan sedekah. Agar rezekinya makin berkah. Biar sedikit, nggak habis-habis. Ingat ya, catat setiap hutang! Agar tidak terlupa dan menjadi beban di akhirat sana. Yang ini memang harus ditunaikan antar sesama manusia. 

3. TABUNGAN
Islam menganjurkan untuk sedekah juga investasi. “Belikan dari sebagian gajimu kambing!” begitu kurang lebih anjurannya. Ini untuk persiapan masa depan, maka harus direncanakan dengan matang.
Kalau menabung menunggu uang sisa, maka hasilnya tidak akan pernah ada. Seperti teori ekonomi mengatakan ; Keinginan manusia itu selalu melebihi jumlah uang yang ada, sekaya apapun orangnya. Untuk menghindari dampak inflasi terhadap uang tabungan, biasakanlah menyimpannya dalam bentuk EMAS karena nilainya akan tetap stabil.

4. BIAYA HIDUP
Nah, sekarang saatnya mencatat kebutuhan untuk hidup. Setelah semua hal diatas dilakukan, habiskanlah uang yang tersisa. Ini akan terasa nyaman saat berbelanja. Tidak ada lagi pikiran mau sedekah, mau bayar hutang, mau menabung, karena semuanya sudah dilaksanakan. Coba deh. Lalu bagaimana jika tidak cukup? Pak Ahmad Gozali bilang “Kecilkanlah anggaran biaya hidup”. Kalau biasanya sekali makan 50,000 ya jadi 25,000. Begitupula kebutuhan yang lainnya. Ingat ya, kebutuhan bukan sekedar keinginan. Ada satu tips juga dari beliau; Kalo mau belanja, usahakan perut dalam keadaan kenyang, agar tidak melirik ke banyak hal yang tidak perlu. 

Sebelum akhir, ada 2 Prinsip mengatur keuangan yang saya dapatkan ketika itu:

Pertama, Pay for God first. Intinya sisihkan untuk amal atau urusan akhirat.
Kedua, Saving dulu baru Shopping !!!

Semoga TIPS yang saya catat tahun 2012 lalu ini bermanfaat.
Terimakasih ilmunya Pak Ahmad Gozali. Baru kerasa setalah 4 tahun diterima.


Penulis : Muhammad Hamka

Gambar : keranews.org “Uang diciptakan untuk dihabiskan” kata Pak Ahmad Gozali (Pakar Keuangan dan Emas) pada Gebyar Wirausaha, Ahad 22 Apr...

Gambar : pinterest.com

Sungguh lembaran sejarah telah banyak bercerita betapa agungnya Muhammad Rasulullah SAW. Pantas saja jika seorang astrofisikawan Amerika Serikat Michael H. Hart pun tidak sanggup menyembunyikan kekagumannya pada Nabi Muhammad dengan menulis namanya diurutan pertama dalam bukunya “100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah”.

Kembali mengingat betapa kerasnya perjalanan da’wah Rasul, beliau tidak hanya di hujat, dicaci, diboikot, bahkan juga akan dibunuh. Tentu kita pun masih ingat bagaimana sambutan luar biasa orang –orang Thaif ketika beliau mengenalkan Islam, tidak hanya cacian tapi juga lemparan batu. Lalu apa yang dilakukan Rasulullah? Apakah membalas melemparinya dengan batu??? Tidak Rasulullah tidak melakukan itu bahkan ketika malaikat Jibril pun datang untuk menawarkan adzab apa yang beliau harapkan untuk orang-orang Bani Tsaqif ini, Rasul pun hanya membalasnya dengan do’a sebagaimana telah dirawayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Aisyah R.A berkata: “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?“ Jawab Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah dimana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku angkat kepalaku, aku pandang dan tiba-tiba Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.“ Rasulullah melanjutkan, kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.“ Jawab Rasulullah, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“ (HR. Bukhari Muslim).

Mari kembali mengingat bagaimana saat Rasul diludahi tiap kali keluar rumah oleh seorang Yahudi dan ini berlangsung setiap hari. YES, EVERYDAY!  Lalu apa reaksi Nabi Muhammad? Lagi… lagi beliau hanya tersenyum kepada orang yang meludahinya, membersihkan ludah yang menempel di badan atau bajunya, kemudian pergi meninggalkan yahudi itu. 

Sampai suatu pagi ketika Nabi Muhammad SAW lewat di depan rumah sang Yahudi, beliau heran karena tidak ada lagi ludah terbang. Satu hari lewat, dua hari lewat, sampai di hari ketiga tetap tidak ada ludah dari sang Yahudi. Rasulullah pun bertanya kepada para sahabat pergi kemana si Yahudi ini, dan beliau mendapat laporan bahwa ternyata dia sedang sakit. Reaksi spontan beliau saat mendengar Yahudi ini sakit adalah langsung mendatangi ke rumahnya. Sesampainya, Apakah rasul menertawakannya atau balas dengan meludahinya???  Tidak,  tapi beliau datang sebagai orang  pertama yang menjenguknya dan mendo’akan kesembuhan untuk yahudi ini.

Kisah lain yaitu tentang kisah beliau yang paling luar biasa bersama pengemis yahudi buta, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah terdapat seorang pengemis Yahudi buta yang hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah S.A.W. mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w. menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.  Rasulullah S.A.W  melakukannya hingga menjelang  Nabi Muhammad S.A.W wafat.



SubhanAllah, ini lah kesabaran dan kebijaksanaan yang Rasul ajarkan kepada ummatnya, sungguh beliau adalah teladan terbaik,Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab:21).  Sangat disayangkan jika pelajaran-pelajaran berharga dari beliau hanya sekedar menjadi penghias buku dongeng anak sebelum tidur, atau hanya menjadi pemanis bibir ketika berkhutbah. Bukankah selama ini kita dengan sangat bangga mengatakan “Bahwa kami adalah ummat Muhammad” ???

Ada kalanya memang dikondisi tertentu “perasaan” menjadi “raja”, dan mungkin inilah hikmah kenapa Allah mengajarkan hambaNya untuk selalu berperasangka baik, tidak setiap sesuatu yang menyakitkan itu datangnya karena sifat dengki, tidak setiap cacian, hujatan itu hadir karena kebencian. Bahkan orang tua kita pun dalam menyampaikan nasihat tidak selalu dengan senyuman dan pelukan, terkadang ada sebagian orang tua menyampaikan sayangnya dengan sindiran atau tak jarang dengan cubitan. Hanya bentuk penyampaiannya saja yang berbeda, maksudnya tetap sama untuk meluapkan rasa “CINTA” kepada anak-anaknya.

Jika pada akhirnya pun terbukti setiap hujatan yang mengalir itu karena kebencian, kita semua pun tau jika  mengalah bukan berarti kalah, namun mengalah untuk merangkul dan selanjutnya untuk menang”. Dengan mengutip tulisan  dari Muhammad Assad "Notes From Qatar" : "you may lose the battle but you win the war". Kewajiban kita hanya berbuat baik sebanyak dan sebisa yang kita lakukan, dalam kondisi seburuk apapun dan bersama siapapun, bukankah itu yang Allah ajarkan kepada kita dalam Al-Qur’an??? Sebagaimana dalam QS. An-Nahl : 90 Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berlaku baik.”

Sampai kapanpun kita harus menyadari bahwa kita manusia, hidup bersama manusia dan harus dimanusiakan karena “We are a human not an angel”. Kita adalah manusia biasa bukan malaikat dan sifat dasar manusia ialah pelupa dan salah. Dan sejatinya kita dituntut untuk terus belajar mengenal, mengerti, dan memahami makna “CINTA”. Semoga bermanfaat. WALLAHU A’LAM.

Penulis : Azkiya

Gambar : pinterest.com Sungguh lembaran sejarah telah banyak bercerita betapa agungnya Muhammad Rasulullah SAW. Pantas saja jika seorang ast...



Gambar : dakwatuna.com

"Dari sekian banyak kemungkinan, kamu pilih yang mana?" 

Ucapku lirih, pandanganku masih terpaku ke arah langit. Pendar oranye dari bayangan purnama malam ini begitu mengesankan. Seakan bercerita, bahwa ada begitu banyak hal yang tak mampu dilukiskan oleh kata-kata, hanya tersisa bulan yang kini membisu-menyaksikan segalanya. 

Ia menghela nafas. Menatapku sekilas. 

"Sederhana. Yang paling banyak memberikan kebahagiaan". 

Aku menoleh, keningku mengerut tipis. 

"Meski kau harus mengorbankan banyak hal?"

Ah, selalu begini. Aku tak pernah bisa mencapai apa yang ada dalam pikirannya. Sekalipun tak pernah. 

Ia tersenyum simpul. Sorot matanya kini menatapku hangat, membuatku terdiam sesaat. 

"Bagiku... kebahagiaan itu tak pernah diukur dari sedikit atau tidaknya yang harus dikorbankan. Kau akan selalu menemukan alasan untuk bahagia, sesulit apapun pilihannya, sebesar apapun pengorbanannya. Dan percayalah, selama kamu yakin tak akan ada penyesalan yang muncul setelahnya, maka semua menjadi sederhana lakukan atau kebahagiaanmu akan menghilang seutuhnya." 

Aku mengangguk. Mendengarnya takdzim. 

Gestur wajahnya seakan menjelaskan banyak hal. Tentang kemantapan hati. Tentang pendirian yang kokoh. Tentang kerelaan yang tulus. Segala hal menjadi sederhana, ketika ia mulai berbicara. 

"Meski itu berarti melepas kebahagiaan yang lain pergi?" 

Tanyaku beberapa detik kemudian. Hening. 

Ia menyandarkan tangan ke belakang, merebahkan badan. 

"Tak ada kebahagiaan yang pergi, Ka. 
Ia hanya berganti. Ketika disandingkan dengan penerimaan, maka kebahagiaan akan selalu menemukan jalannya pulang. Mungkin bukan melalui jalan yang kita inginkan, namun setidaknya ia tidak tersesat. Ia akan tetap sampai pada tujuan"

Ia menjawab mantap. Matanya terpejam, menikmati semilir angin laut yang menyejukkan. 

Senyap. Hanya terdengar suara debur ombak, menyatu dengan dengingan serangga. Kalau saja manusia bisa merekam momen dan menyimpannya dalam botol kaca, mungkin momen ini akan menjadi salah satunya. 

Aku menunduk, menatap riak-riak air yang bergelombang pelan, menyapa sudut-sudut kayu di ujung dermaga. Kemudian aku merogoh kantung, teringat akan perahu kertas yang kami buat sesiangan tadi bersama anak-anak pulau ini. Kualirkan perahu kertas itu ke permukaan air. Perlahan perahu itu terhanyut, membiarkan lautan membawanya pergi tanpa pertanyaan.

"Jadi seperti ini rasanya melepaskan", gumamku pelan. 

Ia terbangun, menepuk-nepukkan tangan ke sisi kirinya. Lalu menoleh ke arahku, seakan terusik oleh apa yang aku lakukan barusan. 

"Kau tahu.....".  ucapnya. 

Aku hanya diam. Menunggu.

"Kata ayah, cara termudah untuk bahagia adalah melepaskan. Semakin tulus kau melepaskan sesuatu, maka akan semakin lapang hatimu untuk menerima kebahagiaan-kebahagiaan yang baru." 

Satu per sekian detik. Aku hanya membalasnya lemah.

"Entahlah, aku rasa melakukannya selalu lebih rumit ketimbang mengatakannya." 

"Melepaskan Ka, bukan melupakan. Sesuatu yang kita lepas pergi, bukan berarti ia tidak akan kembali lagi. Jika langit menakdirkan, ia akan kembali dengan cara yang mengagumkan. Kamu paham hal itu, bukan?" 

bicaranya tenang, namun terselip ketegasan di sudut matanya. 

Mungkin bukan hanya aku satu-satunya orang yang merasakan, tapi orang-orang di sekitarnya pastilah berpendapat demikian. Bahwa ia selalu bisa meyakinkan seseorang dengan cara yang berbeda dari orang kebanyakan : menghargai, bukan menghakimi. 

"Tapi, bagaimana jika..."

Ucapanku terhenti. Tak ingin mengatakannya lebih jauh. Tak ingin membiarkan sesak itu kembali menguap. ingin merusak dinding-dinding yang telah susah payah kubuat. 

la memotong pembicaraan, seakan tahu apa yang ingin aku katakan. 

"Selalu saja begitu. Terlalu sibuk dengan apa-apa yang belum terjadi di hadapanmu. Namun lupa, akan apa-apa yang sejatinya bisa kau raih dari sekelilingmu. Cukup. Bukankah kamu yang mengatakan untuk merelakan segalanya pada Yang Maha Menentukan? Lantas apa lagi yang harus dikhawatirkan?" 

Aku menghela nafas sejenak. Percakapan ini semakin menimbulkan sekelumit pertanyaan. Meski di satu sisi, juga menanamkan begitu banyak pemahaman. Aku mengerti, lebih dari mengerti akan apa-apa yang ia katakan. 

"Merelakan juga berarti siap untuk menghadapi segala hal yang tak sesuai dengan harapan. Jika saat ini kamu belum siap, tak apa. Tapi kelak, ketika kamu sudah memasrahkan segalanya, maka percayalah akan selalu ada orang orang yang menguatkan. Kamu tak akan pernah berjalan sendirian. Tak akan pernah". Ujarnya lembut. 

Tatapan kami menerawang ke depan. Menyadari bahwa masih tersisa petualangan panjang yang harus dilalui, masih banyak makna-makna hidup yang belum kami temui, masih tersimpan rahasia-rahasia langit yang menanti di akhir perjalanan ini.

Dan kami juga sadar. Pada akhirnya, titik temu dari semua ini adalah tentang sebuah keyakinan. Bahwa janji langit tak akan pernah tertukar. Ia akan tetap terjadi, meski itu tidak selaras dengan apa yang manusia inginkan. Yang tersisa hanya bagaimana kita bersedia untuk mengikhlaskan. Seperti perahu kertas yang mengalir, membiarkan lautan membawanya pergi tanpa pertanyaan. 


Penulis : Azka Sa'dan

Gambar : dakwatuna.com "Dari sekian banyak kemungkinan, kamu pilih yang mana?"   Ucapku lirih, pandanganku masih terpaku ke arah l...


Gambar:  anneahira.com


 Ada sebuah jalan
panjang jarak tempuhnya
dan juga terjal medannya
Aduhai, jalan apa itu?
Jalan yang tidak ditempuh kaum-kaum terdahulu
Pun kaum nabi nuh, Ibrahim, musa, isa tidak menempuhnya
barulah kita sebagai kaum nabi Muhammad diminta untuk melaluinya
Aduhai, jalan apa itu?
Jalan yang dimana kita tidak diminta untuk sampai ke ujungnya
Akan tetapi hanya diminta untuk mati di atasnya
Aduhai, jalan apa itu?
Ketahuilah wahai saudaraku
Jalan itu adalah
Jalan dakwah.



قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَ مَآ أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [Yusuf:108].

Sungguh jalan ini adalah jalan yang amat panjang. Yang tidak hanya ditempuh dalam hitungan menit, hari, ataupun tahun bahkan milenia. 22 tahun umur beliau setelah bi’tsah nubbuwah hingga akhir hayat beliau, Rasulullah SAW  habiskan disana. Tidak pula dengan terburu buru dalam melaluinya, yang berharap sekarang berdakwah dan keesokannya sudah berhasil. Bukan, dakwah bukanlah seperti itu. Tabarraka rahman, sungguh indah jalan ini. 
Dakwah bukan sekedar berbicara di depan umum, menyampaikan kultum, khutbah, ataupun ceramah. Akan tetapi meliputi berbagai macam aspek dalam hidup kita. Bahkan gerak gerik tubuh kita, aktifitas kita bisa berwujud dakwah jika dilandasi dengan niat yang tepat dan perbuatan yang benar. Janganlah kau anggap yang di depan umum menyampaikan ayat-ayat Allah lebih berdakwah ketimbang panitia konsumsi yang menyiapkan makanan untuk para jamaah. Jangan juga kau mengira bahwasanya yang duduk di shaf awal dalam suatu pengajian lebih berdakwah ketimbang yang dibelakang. Bisa jadi yang duduk-duduk dibelakang malah lebih berdakwah.
Hobi kita pun bisa menjadi dakwah bagi kita. Ada yang bertanya, “hobi saya kan Rihlah/traveling, mana bisa jadi lahan berdakwah” jawabannya, tentu saja bisa. Jadilah seperti burung hud-hud, yang dimana rihlahnya tercatat dalam catatan sejarah sebagai rihlah dakwah. Mengabarkan kepada nabi sulaiman bahwasanya ada suatu negeri yang aman, makmur, sejahtera namun penduduk negeri itu masih menyekutukan Allah dengan menjadikan matahari sebagai sesembahan mereka, yaitu negeri saba’. Jadilah agent agent dakwah dengan menjadi the next Ibnu Batutah. Jelajahi bumi Allah yang luas ini, singgahi berbagai macam negeri-negeri di bumi ini. 
Sampaikanlah barang sepatah dua patah ayat kepada orang-orang yang merindukan cahaya hidayah di dalam hati mereka. Sehingga saya berikrar di dalam hati akan menjelajahi bumi Allah yang luas ini, singgah diberbagai macam negeri, menginjakkan kaki di bermacam benua untuk menyampaikan bahwasanya Allah adalah satu-satunya dzat yang pantas untuk disembah. Bukan sekedar perjalanan untuk liburan saja, akan tetapi ada suatu misi yang diemban untuk dapat disampaikan. Oleh karena itu, para sahabat-sahabat, kakak kelas, maupun adik kelas yang membaca tulisan saya ini mohon doanya agar beberapa tahun kedepan setelah antum-antum membaca tulisan ini, saya Athariq Faisal sudah menjadi seseorang yang dapat menyampaikan barang seayat ataupun dua ayat ilmu di berbagai belahan dunia. Menjadi the next Ibnu Batutah sang penjelajah untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Betapa banyak barakah yang terdapat dijalan dakwah ini. Status kita sekarang sebagai mahasiswa tidak menghalangi kita untuk berdakwah. Jadilah mahasiswa “KUDA KUDA” Kuliah dakwah, kuliah dakwah. Bukan sekedar mahasiswa “KUPU KUPU” kuliah pulang, kuliah pulang. Bergabunglah disuatu jamaah atau organisasi. Sebab dengan bergabung di salah satu organisasi, apalagi organisasi itu adalah organisasi keislaman dapat menjadikan kita terpacu untuk berkontribusi kepada sesama.
Sibukan diri dengan kegiatan kegiatan positif hingga kita tidak sempat untuk sekedar memikirkan hal-hal yang sia-sia. Juga menjadi sebab mengapa kita harus bergabung di dalam suatu jamaah atau organisasi adalah suatu perkataan yang masyhur dinisbatkan kepada sayyidina Ali rhadiyalahu anhu, yaitu kalimat “Kalau ada kebenaran yang tidak tertata dengan baik, maka dia akan dikalahkan dengan kebatilan yang tertata dengan baik” itu sebab kita harus bergabung di dalam suatu organisasi untuk bersama-sama menyusun suatu program yang jitu yang innovatif untuk mengajak masa sebanyak-banyaknya masa untuk bergabung di program tersebut dan kemudian, kita sisipkan dakwah di dalamnya.
Berdakwah juga memerlukan seni ataupun metode-metode khusus dalam penyampaiannya. Ada sebuah kisah unik, menceritakan tentang seseorang yang ingin masuk islam. Orang itu dituntun untuk bersyahadat oleh petugas kantor keagamaan. dia melafalkan kalimat syahadat dengan terbata-bata karena saking susahnya mengucapkan lafadz arab. “as ngadu.... as ngatu...” sehingga berulang kali petugas itu membetulkannya. Si petugas sangat bersikeras agar si muallaf mengucapkan kalimat syahadat dengan fasyih dan benar. Tidak boleh ada salah sedikitpun. Sehingga hampir 10 menit muallaf itu mati-matian berusaha mengucapkan kalimat syahadat dengan benar. Sang muallaf berkata di dalam hati “masuk islam susah betul ya, baru masuk aja udah disuruh harus ngomong bahasa arab yang fasih”.
Belum sampai disitu penderitaan sang muallaf, sang petugas lalu menanyakan sebuah pertanyaan yang biasa ditanyakan kepada orang yang baru masuk islam. “bapak sudah disunat?, kalau belum pokoknya bapak harus disunat malam ini juga!” lantas si muallaf marah “agama macam apa ini!, tadi saya mati-matian disuruh ngucapin lafadz arab, sekarang saya disuruh sunat. Mending saya ga jadi masuk islam aja deh. Awal-awalnya aja susah, apalagi yang lain.
Jika kita berkaca pada kisah tersebut, siapakah yang patut untuk dipersalahkan? Si muallaf kah yang salah? atau si petugas? Jelas, sikap yang kurang tepat adalah sikap sang petugas dikarenakan kesalahan dalam memilih metode dakwah bagi mad’u. Seharusnya sang petugas memberi kemudahan bagi sang muallaf ketika melafalkan syahadat dengan mentoleransi kesalahan-kesalahan dalam penyebutannya. Dan juga tidak menyuruh sang muallaf untuk langsung disunat.
Berilah kemudahan bagi orang-orang muallaf yang baru saja masuk islam.Tekankan dalam perkara-perkara aqidah terlebih dahulu, ajari sholat secara pelan-pelan, beri kemudahan, beri kelapangan. Belajarlah dari para walisongo yang dengan luar biasanya mampu menjadikan nusantara bermayoritaskan muslim yang sebelumnya bermayoriaskan hindu. Lihat bagaimana metode sunan kalijaga, sunan kudus, sunan ampel, dan sunan-sunan lainnya dalam berdakwah. Betapa jitunya cara mereka dalam berdakwah. Sehingga saya sering bertanya-tanya juga “adakah di zaman sekarang, sebuah organisasi dakwah yang bisa menyamai kualitas dari walisongo?” Betapa luar biasanya mereka, dengan sunan yang berjumlah 9 orang mereka pergi ke penjuru nusantara untuk menyebarkan agama islam dan berhasil.
Coba sekarang ada atau tidak suatu organisasi dakwah yang mampu mengirimkan 9 delegasi mereka ke suatu negeri bilang saja negara jepang untuk berdakwah disana dan dapat mengubah mayoritas penduduk beragama shinto menjadi mayoritas islam dalam kurun waktu tertentu. Semoga kedepannya akan hadir sosok-sosok seperti walisongo yang dengan dakwahnya menyebar rahmah bukan musibah, menyebar kasih bukan perih.
Mari kita bersama-sama untuk selalu menjadikan amalan kita menjadi suatu gerak amal dakwah bagi sesama. Menjadi agent of change, menjadi umat yang selalu menyanding selendang dakwah di bahunya. Dan mudah mudahan di akhir hayat kita, kita tetap berada di atas jalan dakwah ini sehingga kita tercatat sebagai hamba yang berusaha untuk menyebar kebaikan disisi rabbnya, aamiin yarabbal ‘alamiin. Wallahu a’lam bi showaab. 

Penulis: Athariq Faisal

Gambar:  anneahira.com   Ada sebuah jalan panjang jarak tempuhnya dan juga terjal medannya Aduhai, jalan apa i tu ? Jalan yang tidak ditempu...


Gambar : islamituindah.my



“Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan”. (HR.Imam Tirmidzi & Ahmad)

Kutipan hadist diatas merupakan satu dari banyaknya hadist yang meriwayatkan tentang shalat tahajud. Dari terjemahan hadist diatas kita bisa merenungi bahwa shalat tahajud merupakan shalat sunnah yang tidak biasa, shalat yang Allah khususkan derajatnya, dan merupakan shalat sunnah yang mempunyai ganjaran lebih dibanding shalat sunnah lainnya. 

Banyak hal yang dapat kita petik manfaatnya dari shalat tahajud, sebagai contoh ketika seseorang ingin belajar di malam hari ia pasti menggunakan waktu sepertiga malamnya agar bisa menyerap pelajaran dengan mudah, di waktu itulah ketika Allah melihat usaha kita dan kita pergunakan waktu tersebut untuk menunaikan shalat dan bermunajat kepada Allah. Inilah mengapa shalat tahajud memiliki ganjaran yang lebih dibanding shalat sunnah lainnya, karna selain mendapat pahala, sebagai penghalang berbuat salah, dan menghindarkan dari penyakit, orang-orang yang menunaikan Shalat tahajud juga termasuk tiga golongan manusia yang dicintai oleh Allah.

Shalat tahajud merupakan ibadah yang menakjubkan.. Dari sisi kesehatan misalnya, menurut Dr. Abdul Hamid Diyab dan Dr. Ah Qurquz mengatakan “shalat malam dapat meningkatkan daya tahan (imunitas) tubuh terhadap berbagai penyakit yang menyerang jantung, otak dan organ-organ tubuh yang lain”, menakjubkan bukan? Itu hanya baru berbicara soal kesehatan, selain itu hadist lain mengatakan “Mengapa orang yang selalu melakukan shalat Tahajud wajahnya lebih indah? Sebab mereka menyendiri bersama Ar-Rahman (Allah), sehingga Allah memberikan kepadanya cahaya-Nya.”[38]. 

Keutamaan lain dari melaksanakan shalat sunnah sepertiga malam ini adalah ibadah yang sangat dicintai Allah, mengapa? Karna selain mendapatkan manfaat yang banyak, shalat ini memiliki kedudukan yang lebih di mata Allah, ketika di hari kiamat kelak orang-orang yang di dunia nya istiqomah melakukan solat tahajud akan mendapat keringanan ketika di hisab, dapat dengan mudah menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim yang dibaratkan seperti halilintar yang menyambar, catatan amalnya diberikan ditangan kanan,dll. 

Selain mendapat ganjaran di hari kiamat kelak, di dunia pun Allah memberikan ganjaran yang tidak biasa, seperti dipelihara oleh Allah SWT dari segala mara bahaya, akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh semua manusia, lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah, dan masih banyak lagi.

Shalat tahajud merupakan shalat sunnah yang ‘wajib’ dikerjakan bagi umat Islam, terutama untuk pemuda-pemudi di zaman sekarang ini. Kebutuhan rohani seseorang tidak akan terpenuhi jika tidak diimbangi dengan amalan-amalan sunnah yang mungkin menurut kita hanya mendapat ganjaran yang kecil namun mendapat pahala yang tak disangka-sangka. Dan satu lagi sebuah perkataan "Jika impiamu tidak mampu membuatmu bangun malam dan mendirikan solat tahajud, maka impian itu tidak seserius yang engkau inginkan".  Shalat tahajud inilah salah satu shalat sunnah yang apabila kita kerjakan mendapat banyak kebaikan dan jika tidak dikerjakan akan merasa merugi. Wallahu a’lam.


Penulis : Pe Nasya

Gambar : islamituindah.my “Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga sua...

Gambar : satubahasa.com

Pernahkah kamu merasakan bahwa ajalmu hampir datang? Atau mungkin di suatu saat kamu menerka-nerka bahwa di sekitarmu terdapat malaikat Izrail yang siap mencabut nyawamu? Tidak ada satupun manusia yang mengetahui ujung hayatnya. Tidak ada satupun manusia yang dapat meramal kematian dirinya, temannya ataupun keluarganya. Nasib seseorang sudah terdapat pada lauhul mahfuz yang merupakan catatan hidup manusia mulai dari lahir sampai mati. 

Cerita ini merupakan sebuah throwback dari seorang gadis kecil yang sedang menikmati sisa liburannya ke Singapura, sebut saja Lin Li. Peristiwa yang terjadi beberapa tahun lepas ini termasuk salah satu yang masih bisa diingat jelas olehnya, masih jernih terekam dalam memori otak layaknya kejadian yang baru dialami 3 hari yang lalu. Peristiwa tersebut bukanlah moment yang cukup indah untuk di-rewind oleh seorang gadis kecil, bukan momen bahagia ketika jalan-jalan, bukan shopping ataupun mencicipi kuliner khas negara Merlion, melainkan moment ketika ia masih diantara awan-awan yakni di dalam pesawat terbang. 

Penerbangan dari Jakarta menuju Singapura hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Akan tetapi, qadarullah pada saat itu ia terpaksa harus ‘menikmati’ perjalanan di udara lebih dari 2 jam. Kata orang, naik pesawat bukanlah hal yang menakutkan dan sulit, kamu check-in, melewati imigrasi, tunggu di waiting room, masuk pesawat, duduk dengan tenang lalu beberapa jam kemudian kamu sampai di destinasi yang kamu inginkan. Jangan takut, karena dengan canggihnya teknologi dan keahlian sang pilot, kamu akan selamat. Mereka petugas kabin akan melayani kebutuhanmu dengan sepenuh hati dan juga memastikan keamanan dan kenyamanan penumpang. Tapi, benarkah keselamatanmu akan terjamin?

Lin Li duduk diantara ketiga saudaranya. Ia menatap kaca jendela yang kini berlatar awan putih bertebaran dalam jumlah kecil bagaikan kumpulan kapas tipis yang lembut. Ketika dewasa Lin Li tahu bahwa awan tersebut mempunyai nama yaitu Alto-Kumulus. Dalam benaknya ia sudah tidak sabar lagi menapakkan kakinya di negara asing untuk pertama kalinya tanpa orang tua. Bintik-bintik air mulai terlihat di kaca jendela sebelahnya. Cuaca hari itu memang sedang tidak bersahabat sejak ia berangkat ke bandara tadi pagi “Oh, hujan…” kelopak mata Lin Li mulai terasa berat, ia pun mulai memejamkan matanya. Selang beberapa lama kemudian, masih setengah sadar ia mendengar announcement dari awak kabin tentang cuaca diluar yang semakin memburuk ditambah hujan yang sepertinya bukan hanya rintik-rintik lagi. Sudah hampir 2 jam tetapi pesawat belum landing. Seharusnya ia sudah sampai di Changi Airport dan dapat menghirup udara kota Singapura. 

Cahaya matahari mulai meredup, langit berangsur-angsur menjadi kelabu. Bentuk awan pun menjadi tidak menentu dan berubah warna putih kegelapan. Seketika Lin Li merasakan pesawat yang ditumpangi mulai sedikit goyang, penumpang lainnya juga mulai terlihat resah. Yang sebelumnya di dalam pesawat itu hening dan hanya ada beberapa suara anak kecil, sekarang terdengar percakapan yang menandakan “kecemasan” mereka. Berkali-kali awak kabin berusaha untuk menenangkan penumpang yang tampaknya sudah mulai tidak bisa tenang. Bagaimana tidak, goncangan pesawat itu datang lagi lebih keras membuat salah satu penumpang berteriak terperanjat dan terdengar pula tangisan anak bayi. Entah tangisan haus, lapar atau mungkin kaget. Rasa sedikit takut mulai menyergapi Lin Li, ia menarik jaketnya dan berusaha tenang. Ia melihat ke arah penumpang lainnya. Ada seorang ibu memeluk anaknya erat-erat yang duduk di sebelahnya, ada kakek tua yang tengah berdoa kepada Tuhannya dan ada pula anak muda yang masih tertidur sambil menggunakan headset.

Lin Li merasakan sesuatu yang menggengam pergelangan tangannya dengan kuat hingga memerah. Ia mendongak melihat seorang yang dikenal memejamkan matanya dan mulutnya berkomat-kamit melafalkan Astaghfirullah, Allahu akbar, laa ilaha illallah. Sebenarnya ia ingin berbisik “Teh, tanganku sakit…” tapi rasanya ini bukan saat yang tepat, semua penumpang memang sedang ketakutan karena goncangan pesawat itu tidak berhenti bahkan bertambah kuat. Berat pesawat seakan-akan menjadi seperti kapas yang mudah diterpa angin. “Inikah yang dinamakan turbulence?” Lin Li sudah pernah mengalami turbulence sebelumnya tetapi tidak sehebat ini. Lalu terbesit dalam pikiran Lin Li hal-hal yang menyeramkan seperti… akankah pesawat ini jatuh? Ya, penumpang bakal kehilangan nyawanya termasuk dirinya. Kemungkinan nyawa mereka masih selamat sangatlah kecil jika pesawat tersebut benar-benar jatuh dari ketinggian entah berapa kaki saat itu. Pilot dan awak kabin pun tidak bisa menyelamatkan semua nyawa penumpangnya. 

Beberapa saat kemudian, kembali pesawat tersebut bergoyang tidak beraturan dan tidak berhenti. Suara gemuruh terdengar bercampur dengan suara penumpang yang mulai bising. Situasi di dalam pesawat semakin genting dan hati kecil Lin Li pun semakin gelisah. Seribu pertanyaan pun muncul di kepalanya. Jadi, inikah detik-detik ajalku? Inikah saatnya malaikat maut mencabut nyawaku? Inikah saatnya aku menghadap kepadaNya? Apa yang terjadi setelah ini? Nanti aku pergi kemana? Sama siapa? Apa yang akan aku laporkan nanti padaNya? Aku masih muda.. Masih ingin berbuat hal-hal besar. Masih ingin membalas budi orang tua. Bayangan wajah kedua orang tuanya menghampiri Lin Li, ia tidak sempat meminta maaf sebelum pergi tadi. Lalu ia ingat Allah. Sungguh ia merasa dirinya sangat lemah. Tidak ada kata lain kecuali beristighfar dan memohon pertolongan kepadaNya. Jika memang sudah ditakdirkan maut menjemputnya sekarang, ikhlaskan hati ini ya Allah, gumamnya. Lin Li pasrah, ia gantungkan segalanya kepada Allah. Laa hawla wa laa quwata illa billah.. 

Setelah sekian lamanya turbulence, kondisi pesawat mulai kembali sedikit tenang, goyangan sudah tidak terasa lagi sampai akhirnya tiba di Singapura. Hal yang sedikit lucu ialah ketika melihat penumpang berbondong-bondong antri menunggu giliran ke toilet kecil di pesawat setelah kejadian tersebut. Lin Li menghela nafas, Allah masih melindungi mereka. Mungkin kejadian barusan hanyalah sebuah ujian kecil. Bisa juga diartikan sebagai peringatan bahwa sesungguhnya kematian selalu mengintai kita. Apakah kita sudah siap menghadapi maut? Mudah saja bagi pemilik semesta ini untuk mencabut nyawa makhlukNya. Sadarlah, bahwa ajal tidak mengenal tua atau muda. Ajal tidak mengenal apakah seseorang dalam keadaan yang terbaik dalam iman dan islamnya atau malah sebaliknya (naudzubillah). Ajal tidak mengenal tempat, waktu dan kondisi seseorang. Maka berbuat baiklah selalu (fastabiqul khairat) dan jangan sekali-kali berpikir untuk mencoba hal-hal yang diharamkan hanya karena “belum datang kiamat”. Ayah Lin Li selalu berkata: “Orang yang cerdas itu ialah yang selalu ingat pada kematian”. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang khusnul khotimah, mengakhiri hidup ini dibawah naungan Islam dan hati yang selalu berdizikir mengingatNya.

Penulis : Farnaz Unsil Habieb

Gambar : satubahasa.com Pernahkah kamu merasakan bahwa ajalmu hampir datang? Atau mungkin di suatu saat kamu menerka-nerka bahwa di sekitarm...


Gambar : Jitu.or.id

"Dia anak sepupunya adik ipar istrinya sepupu nenek?"

Setelah assembly mingguan yang sudah menjadi rutinitas selasa pagi bagi kami para murid, tidak seperti biasanya, Ms. Collins memanggil aku untuk datang ke ruangannya. Aku pun mulai mengingat apa yang aku lakukan selama seminggu lalu. Sepertinya tidak ada yang salah.

Sesampainya aku diruangan wali kelas 8A itu, beliau langsung menjelaskan alasannya kepadaku, tanpa basa-basi. 

"There is another Indonesian transferred student, her name is Nanda. I want you to be her buddy."

Sudah menjadi sebuah tradisi sekolah ini untuk seorang murid baru mempunyai seorang buddy, dimana buddy nya akan membimbing dan membantu murid baru tersebut sampai murid baru ini familiar dengan sekolah kami. Apalagi untuk seorang murid baru dari negara yang tidak berbahasa inggris. Istilah lainnya, aku bakal jadi guide merangkap translator nya dia.

"Mimpi apa aku semalam!", teriakku dalam hati. Sudah terlalu banyak murid baru dari Indonesia semester ini. Teman-temanku yang dipercaya menjadi buddy dari yang dulunya semangat sampai merasa terganggu. Biasanya anak baru itu cupu dan norak, mungkin karena terkena culture shock. Dan itu membuat kami anak lama sedikit risih. Walaupun aku tidak begitu setuju dengan teman-temanku, tapi aku hanya bisa menertawakan mereka sambil berharap hal itu tidak terjadi padaku aku tidak akan pernah kena. Dan sekarang giliranku.

"I'm sorry but you're the only Indonesian girl in the class. I dont want to make her awkward to have a guy buddy", Ms. Collins mencoba menjelaskan. Sepertinya mukaku mengatakan dengan jelas kalau aku keberatan, dan Ms. Collins sadar akan hal itu.

"If you don’t have anymore question, you’re dismissed. She's coming tomorrow. I'll introduce you guys. Sorry Aya, I need to prepare for the class", dan aku pun harus segera ke kelas juga. Jam pertama kelas Mr. O'brien, tidak boleh telat bahkan semenit pun.

"Alright, miss", cuma itu yang keluar dari mulutku. Bukan aku tidak mau membantu atau menolak menambah teman atau termakan keluhan teman-temanku yang lain, tapi ini sudah dekat dengan ujian akhir. Kenapa harus sekarang sih si Nanda ini pindah?

---

"Aya, this is Nanda. And Nanda this is Aya. She will be your buddy and she will help you with school stuff. Hope you two get along well", ucap Ms. Collins keesokan harinya.

Dan begitulah aku kenal dengan Nanda. Hari-hari selanjutnya penuh dengan mempersiapkan final dan mencoba menjauh dari Nanda. Dan lama-kelamaan aku berfikir, buat apa juga aku tolong dia, hanya gara-gara aku satu negara dengan dia? Toh dia juga bukan siapa-siapa.

---


"Aya siap-siap kita mau kerumah Kekda", teriak Mama dari dapur. Satu-satu nya keluarga kami disini, sepupu jauh Nenek ku yang kupanggil Kekda dan Nekda. Hidup dan tinggal di tempat 3000 mil jauhnya dari keluarga besar, rasanya beruntung sekali punya saudara, walaupun tidak begitu dekat.

"Abis itu bantuin mama didapur ya. Ada tante Mira sama keluarga sepupunya juga datang kerumah Nekda, jadi mau bawa kue lebih", tambah Mama.

"Wah tante Mira juga ada ma? Oke bentar ya maa!", jawabku dengan semangat. Tante Mira itu orangnya baik sekali, dia guru di sekolahku dan dia salah satu guru paling asik di sekolah. Dia adik iparnya Nekda, tentu saja aku bangga masih ada hubungan saudara dengan guru terfavorit satu sekolah. 

Tanpa banyak tanya aku pun segera mempersiapkan diri. Sudah menjadi rutinitas setiap dua sampai 3 minggu sekali keluargaku berkunjung ke rumah Kekda juga. 

Setibanya kami di rumah Kekda, rasanya jantungku mau lepas dan melarikan diri dari tempatnya. Nanda duduk dengan manis di ruang tamu dan tante Mira langsung menghampiri aku dan berkata, "Aya, tante mau kamu kenalan dengan ponakan tante ini, anaknya om Ilham sepupu tante. Kamu year 8 kan? Sama dong ya sama Nanda. Nanda sini kenalin ini Aya. Nanda ini baru masuk jadi tolong-tolong lah dia ya Aya", celoteh tante Mira dengan semangatnya tanpa membiarkan aku ataupun Nanda menjelaskan bahwa kita sudah lebih duluan kenal.

Jadi, dia itu anak sepupunya adek ipar isitrinya sepupu nenekku?

---
                                   
Allah berfirman: 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (49:10)

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (49:10)

Dan juga rasulullah bersabda:

عَنْ أبْنِ عُمَرَ رَضِى الله عَنْه قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَضْلِمُهُ ولايخذله وَلا يُسْلِمُهُ

"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: "Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya." (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Sudah jelas dari kedua pedoman utama kita sebagai umat Muslim menjelaskan bahwa sesama umat Muslim itu bersaudara. Tidak harus mempunyai ikatan darah untuk mengatakan bahwa dia adalah kakak atau adikku. Tidak harus tertulis di silsilah keluarga yang sama untuk mengakui kalau dia adalah tante atau pamanku. Terlebih kalau itu menjadi suatu alasan untuk tidak membantu saudara Muslim lainnya. Semoga kita terhindar dari keburukan tersebut dan termasuk Muslim yang rela membantu sesama Muslim lainnya. Wallahua'lam.

Penulis : Balqis Wulandara Supriatna

Gambar : Jitu.or.id "Dia anak sepupunya adik ipar istrinya sepupu nenek?" Setelah assembly mingguan yang sudah menjadi rutinitas ...

Menjadi guru adalah mengabdi. Gambar : ibtimes.co.uk
Pada zaman kontemporer ini profesi sebagai seorang guru menjadi sorotan tiap mata masyarakat, pandangan publik terhadapnya merupakan ujung tombak pendidikan. Oleh karena itu, dilihat baik atau buruknya kualitas sebuah negeri selalu disangkut pautkan dengan kualitas para guru nya.

Secara formal, guru adalah mereka yang secara resmi di angkat oleh pemerintah dan diberikan tanggung jawab dengan tugas yang diberikan dari lembaga dalam durasi tertentu. Akan tetapi, secara penerapan yang nyata setiap orang akan merasakan menjadi guru, mengajar dan membimbing sesama, baik kepada anak, teman ataupun keluarga. Ketika mereka dengan ikhlas berbagi ilmu yang didapatkan dari berbagai pengalaman, maka secara analogi mereka boleh dikatakan sebagai guru.

Perjalanan sejarah dari zaman klasik hingga modern ini tampak sebuah variasi dari sebuah karir sebagai guru. Ada yang dari bawah hingga bangkit ke atas layaknya sebuah jabatan yang meningkat dengan posisi yang mengejutkan. Seperti wakil rakyat, pimpinan daerah, dan sebagainya . Adapun yang memiliki orientasi untuk berkreasi diajang akademik memegang prinsipnya sebagai seorang yang intelek dalam pengajaran dan adapun tidak sedikit dari mereka yang dilepas ke luar negri untuk mengembangkan pendidikanya.

Sayangnya, di ranah nyata ini,  banyak dari mereka (para guru) masih mengalami berbagai kendala dalam mengembangkan diri dan lalai akan keinginan dan tujuan awalnya sebagai seorang guru. Layak terbayar oleh gaji dan memandang segala sesuatu dari segi materi dan bukan amanat yang harus ditunaikan karena Allah Swt. Sehingga memandang segala sesuatu dengan berbagai tekanan dan hal yang merepotkan, mengajar dengan perasaan terpaksa hanya untuk menutupi keadaan ekonominya dan menunggu tunjangan tercairkan.

Faktor pada nominal gaji bukanlah satu dari kendala seorang guru yang berpengaruh terhadap kinerja yang profesional.  Banyak sekali yang mempengaruhi sikap pandangan untuk maju seperti rasa pengabdian, kesejahteraan, kecintaan terhadap profesi, kebiasaan melakukan refleksi diri, hingga semangat yang tetap terjaga dalam menuntut ilmu sepanjang hidupnya. Hal ini akan mempengaruhi kualitas cara dan bagaimana kinerja seseorang guru.

Banyak definisi yang telah dirumuskan oleh para ahli mengenai apa itu ‘guru’. Salah satunya ialah pendapat Suparlan, 2005: 12 yang menyebutkan bahwa guru adalah orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual, emosional, fisikal, intelektual, maupun aspek-aspek lainnya.

Tugas penting dan tidak ringan tersebut umumnya kita dapati di lapangan, telah dilakukan guru dengan penuh perasaan cinta, tanggung jawab, dan keikhlasan. Mereka melakukan pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Guru melakukannya tanpa paksaan dan tanpa tekanan maupun rasa ketakutan. Apabila ada seorang guru yang melakukan tugasnya bukan karena rasa pengabdian tetapi karena keterpaksaan atau karena tekanan rasa ketakutan, maka guru itu sesungguhnya bukanlah seorang ‘guru’. Ia tidak akan dapat memberikan kontribusi bagi tujuan mulia pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seringkali, pengabdian seorang guru bukanlah hal yang mudah dilakukan. Pengabdian seorang guru bahkan kadang-kadang harus diikuti dengan pengorbanan besar. Banyak guru yang mengabdi di tempat-tempat yang terpencil: jauh di puncak-puncak pegunungan, di pulau-pulau kecil di tengah lautan, hingga diantara masyarakat yang masih terasing dari peradaban modern. Banyak guru yang mengabdi di daerah-daerah rawan konflik yang tentu saja dapat membahayakan keselamatan jiwanya dan keluarganya. Acapkali pula demi pengabdiannya, banyak guru terpisah jauh dari keluarga karena harus tinggal di daerah-daerah yang sarana transportasi dan komunikasinya masih sangat sulit dan minim. Banyak guru yang mengabdi tanpa terlalu memperhitungkan besaran gaji yang akan mereka terima. Kita tahu, masih banyak guru-guru non-PNS yang gajinya bahkan sangat jauh di bawah UMR (Upah Minimum Regional) buruh.

Lalu, jika pilihan hidup untuk mengabdi sebagai seorang guru bukanlah jalan yang mudah dan mulus untuk dilalui, mengapa hingga sekarang masih banyak orang-orang yang melakukannya? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus kembali memahami makna sebuah pengabdian. Pilihan hidup menjadi seorang guru apabila dilakukan dengan tulus ikhlas dan dengan rasa cinta, maka akan membawa seseorang kepada kebahagiaan yang tentu tidak dapat dinilai dengan materi. Inilah modal terbesar yang akan membawa seseorang pada kesuksesan dalam menjalani profesi sebagai seorang guru yaitu sebuah pengabdian.

Penulis : Ridho Ardiansyah

Menjadi guru adalah mengabdi. Gambar : ibtimes.co.uk Pada zaman kontemporer ini profesi sebagai seorang guru menjadi sorotan tiap mata masya...